- Unismuh Makassar meraih peringkat pertama perguruan tinggi swasta di Kawasan Timur Indonesia dalam pemeringkatan Webometrics Juli 2026.
- Indikator utama yang menjadi kekuatan Unismuh adalah *Visibility* dengan capaian peringkat 1.830 dunia melalui konten digital.
- Unismuh menghadapi tantangan meningkatkan indikator *Excellence* dan *Openness* melalui penguatan kualitas publikasi ilmiah serta sitasi riset.
Menurutnya, kekuatan digital kampus harus menjadi sarana agar pengetahuan yang dihasilkan sivitas akademika dapat ditemukan, dibaca, digunakan, dan dirujuk oleh masyarakat maupun komunitas akademik.
“Kita tentu bersyukur Unismuh berada pada posisi tertinggi di antara PTS Kawasan Timur Indonesia. Tetapi yang lebih penting bagi kami bukan sekadar nomor peringkat. Pertanyaannya adalah apakah ilmu, penelitian, inovasi, dan pengabdian yang kita hasilkan benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Rakhim, Kamis (3/9/2026).
Karena itu, ia menilai website universitas tidak cukup hanya dipenuhi informasi kegiatan dan pemberitaan institusi.
Website harus menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menemukan penelitian dosen, jurnal, repositori, inovasi mahasiswa, hasil pengabdian, hingga berbagai karya akademik Unismuh.
Baca Juga:Universitas Muhammadiyah Ungkap Alasan Pecat Dosen Mengaku Tegur Mahasiswi Berpakaian Ketat
“Website universitas harus menjadi pintu masuk menuju pengetahuan. Orang harus dapat menemukan penelitian dosen, jurnal, repositori, inovasi mahasiswa, hasil pengabdian, dan berbagai karya akademik Unismuh melalui ruang digital kita,” katanya.
Bukan Sekadar Banyak Konten
Kekuatan Visibility tersebut tidak berdiri sendiri. Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Burhanuddin mengatakan reputasi digital harus ditopang oleh substansi akademik.
Menurutnya, semakin banyak orang menemukan Unismuh di ruang digital, semakin besar pula tuntutan agar informasi yang tersedia benar-benar memiliki kualitas akademik.
“Visibility yang baik adalah modal, tetapi tidak boleh berdiri sendiri. Semakin banyak orang menemukan Unismuh di ruang digital, semakin besar pula tanggung jawab kita memastikan bahwa yang mereka temukan adalah konten akademik yang bermutu, data yang kredibel, penelitian yang dapat dirujuk, dan inovasi yang memiliki dampak,” ujarnya.
Baca Juga:Dosen Dipecat Karena Tegur Mahasiswa Berpakaian Ketat? Pimpinan Muhammadiyah Investigasi
Karena itu, pencapaian Webometrics bukan semata hasil kerja tim teknologi informasi maupun humas.
Fakultas, program studi, pengelola jurnal, perpustakaan, lembaga penelitian, dosen, dan mahasiswa ikut menentukan seberapa kuat jejak digital sebuah universitas.
Jurnal yang dikelola dengan baik, repositori yang terbuka, penelitian yang dikutip, profil peneliti yang tertata, hingga konsistensi penggunaan afiliasi akademik menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
“Peringkat universitas sesungguhnya merupakan hasil akumulasi kerja banyak orang. Jurnal yang dikelola dengan baik, repositori yang terbuka, penelitian yang disitasi, profil peneliti yang rapi, hingga konsistensi penggunaan afiliasi semuanya saling berhubungan,” jelasnya.
Tantangan Berikutnya: Naik Kelas di Publikasi
Meski Visibility menjadi kekuatan Unismuh, data Webometrics juga menunjukkan masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan.