- Penjual balon keliling bernama Daeng Raba merasa lebih tenang berjualan setelah Jalan Hertasning Makassar diperbaiki pemerintah.
- Perbaikan jalan tersebut merupakan bagian dari Multi Years Project Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk infrastruktur berkualitas tinggi.
- Program pembangunan infrastruktur berlanjut ke tahap kedua dengan total anggaran gabungan mencapai tujuh koma tujuh triliun rupiah.
SuaraSulsel.id - Setiap jam 10.00 pagi, Daeng Raba mengayuh sepedanya. Sesekali juga ia dorong.
Usianya sudah 62 tahun. Namun, tubuh renta itu masih setia melewati jalan-jalan di Kota Makassar.
Dari sepeda itulah ia menggantung balon warna-warni yang akan dijajakannya kepada orang-orang yang ditemui di sepanjang perjalanan.
Jarak yang ditempuhnya sekitar empat kilometer setiap hari.
Baca Juga:Sulsel Kekurangan Listrik? Guru Besar Unhas Bongkar Masalah Besarnya
Selasa, 1 September 2026, Daeng Raba kembali melintas di Jalan Hertasning, Makassar. Sepedanya bergerak pelan di atas permukaan jalan yang kini terasa jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Jalan yang mulus membuat kayuhan sepedanya lebih ringan.
Bagi sebagian orang, jalan yang mulus mungkin hanyalah bagian kecil dari keseharian. Tetapi bagi Daeng Raba, perubahan itu berarti lebih dari sekadar aspal baru.
Perjalanannya jauh lebih nyaman. Jualan lebih tenang. Dan ada satu kekhawatiran yang perlahan hilang.
Dulu, kata Daeng Raba, Jalan Hertasning menjadi salah satu bagian paling merepotkan dalam rutinitasnya.
Baca Juga:Sulsel Darurat Air dan Listrik Padam, BMKG Ungkap Fakta Ini
"Aih dulu setengah mati lewat sini. Rusak jalanannya apalagi kalau hujan," ujarnya.
Lubang-lubang jalan membuat sepeda yang digunakannya bekerja lebih keras. Ia bahkan pernah mengalami kerusakan velg setelah roda sepedanya menghantam lubang.
Ketika hujan turun, persoalannya bertambah.
Genangan membuat lubang di jalan sulit terlihat. Sementara ketika malam tiba, kondisi jalan yang gelap membuat perjalanan semakin tidak nyaman.
"Ban depanku ini sampai bengkok. Masuk lubang. Tidak dilihat ki ka tergenang air," ujarnya sambil menunjuk ban depan sepeda miliknya.
Bagi pedagang kecil seperti dirinya, kerusakan sepeda bukan perkara sepele.
Sepeda adalah alat untuk mencari penghasilan. Ketika sepeda rusak, perjalanan untuk menjajakan balon ikut terganggu.
Namun kini Daeng Raba tetap mengayuh sepeda yang sama dengan perasaan berbeda.
Jalanan yang dulu membuatnya waswas kini terasa lebih bersahabat.
![Pekerja memasang papan bicara pengerjaan jalan di Jalan Aroepala, Kabupaten Gowa. Proyek tersebut bagian dari Multi Years Project paket I yang hampir selesai dikerjakan [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/02/34168-proyek-jalan.jpg)
Ia tidak perlu lagi terlalu khawatir roda sepedanya masuk lubang. Tidak harus terus-menerus mencari bagian jalan yang paling aman untuk dilewati.
Kini ia bisa berjualan dengan lebih tenang.
"Wah, kalau sekarang sudah nyamang (nyaman). Sudah bagus sekali. Mulus," tutur Daeng Raba.
Penghasilannya sebagai penjual balon mungkin tidak selalu banyak.
Ada hari ketika dagangannya laku. Ada pula ketika hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, setidaknya perjalanan mencari rezeki tidak lagi dibayangi rasa cemas karena kondisi jalan.
Kisah kecil Daeng Raba itu berlangsung di salah satu ruas yang selama bertahun-tahun menjadi jalur padat lalu lintas. Jalan Hertasning menghubungkan kawasan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa dan menjadi bagian penting dari pergerakan masyarakat maupun aktivitas ekonomi.
Kini, ruas tersebut menjadi bagian dari program Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
MYP adalah salah satu strategi Pemprov Sulsel untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dengan pengerjaan yang dirancang berkelanjutan dan tidak berhenti pada perbaikan sementara.
Melalui program tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp3,7 triliun yang bersumber dari efisiensi APBD pada tahun 2025-2027.
Salah satu program besarnya adalah rehabilitasi jalan sepanjang sekitar 1.000 kilometer melalui enam paket pekerjaan yang mencakup 83 ruas jalan di berbagai wilayah Sulsel.
Jalan Hertasning menjadi bagian dari Paket 1 bersama sejumlah ruas lainnya. Ada Jalan Aroepala, Jalan Tun Abdul Razak, Jalan HM Yasin Limpo, hingga jaringan jalan yang menghubungkan Gowa, Sinjai dan Bulukumba.
Jalan adalah penghubung. Bisa membawa petani menuju pasar, mengantarkan pekerja menuju tempat kerja, memudahkan anak-anak pergi ke sekolah, memperlancar distribusi barang, sekaligus membuka akses menuju kawasan wisata.
Karena itu, ketika jalan diperbaiki, dampaknya tidak berhenti pada permukaan aspal.
Aktivitas masyarakat ikut bergerak.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan pembangunan jalan dalam MYP tidak diarahkan sekadar sebagai pekerjaan tambal sulam.
Pemerintah ingin menghadirkan infrastruktur yang lebih kuat dan tahan lama.
"Pengaspalan ini kita kerjakan dengan standar yang lebih tinggi. Kita mengambil rekanan dengan pengalaman level nasional, sehingga ada company assurance dalam hal kualitas. Tapi pelaksanaannya tetap melibatkan kontraktor lokal," ujar Andi Sudirman.
Ia menyebut pembangunan infrastruktur jalan merupakan bagian dari komitmen pemerintah provinsi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah.
Sebab pembangunan sosial dan ekonomi membutuhkan akses yang memadai.
"Kita tidak bisa bicara konektivitas sosial dan ekonomi kalau jalannya rusak. Karena itu, perbaikan jalan tidak bisa ditoleransi lagi," katanya.
Irigasi Hingga Rumah Sakit Jadi Prioritas
MYP tidak hanya memprioritaskan jalan.
Program tersebut juga menyentuh sektor irigasi dan kesehatan.
Pada sektor irigasi, Pemprov Sulsel menyiapkan rehabilitasi melalui empat paket yang mencakup 39 titik jaringan irigasi di sejumlah kabupaten.
Jaringan tersebut tersebar mulai dari Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu hingga Luwu Timur.
Tujuannya sederhana, tetapi dampaknya besar. Andi Sudirman ingin memastikan ketersediaan air sekaligus mendukung produktivitas pertanian.
Di sektor kesehatan, pembangunan rumah sakit regional di Malino, Gowa, dan Kabupaten Luwu diarahkan untuk memperkuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Gelontorkan Rp5 Miliar untuk Tahap II
Program pembangunan tersebut tidak berhenti pada MYP tahap pertama.
Pemerintah Provinsi Sulsel bersama DPRD Sulsel menyiapkan MYP tahap II dengan nilai sekitar Rp5 triliun.
Program itu akan menyasar 11 sektor prioritas, mulai dari infrastruktur jalan dan jembatan, irigasi, pertanian, bedah rumah hingga pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp4 triliun dialokasikan melalui skema multiyears, sedangkan sekitar Rp1 triliun lainnya dikerjakan dengan skema single year.
Wakil Ketua DPRD Sulsel, Fauzi Andi Wawo mengatakan MYP tahap kedua juga diarahkan kepada wilayah yang belum banyak tersentuh program pada tahap pertama.
Luwu Raya, Toraja dan Kepulauan Selayar menjadi beberapa wilayah sasaran.
Jika digabungkan dengan MYP tahap pertama, total program tersebut mencapai sekitar Rp7,7 triliun hingga 2029.
"Total dari awal ini, Rp4 triliun yang sekarang, kemarin Rp3,7 triliun, totalnya Rp7,7 triliun. Sampai 2029," ujarnya.
Pengamat kebijakan publik Universitas Hasanuddin, Rizal Pauzi juga menilai skema multiyears menjadi salah satu terobosan dalam mempercepat penyelesaian persoalan infrastruktur yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat.
Menurut dosen Administrasi Publik FISIP Unhas itu, pembangunan infrastruktur secara lebih terencana memungkinkan pemerintah menyelesaikan pekerjaan secara lebih komprehensif.
Ia melihat keberanian pemerintah memusatkan perhatian pada infrastruktur juga memiliki konsekuensi terhadap pembagian anggaran di sektor lain.
Namun, kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
"Saya melihat Gubernur kita memiliki keberanian mengambil kebijakan dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur karena memang itu yang paling dibutuhkan masyarakat," ujarnya.
Rizal menilai manfaat infrastruktur akan bergerak lebih jauh dari sekadar memperlancar perjalanan.
Jalan yang baik membuka akses masyarakat, memperlancar mobilitas barang dan manusia, sekaligus menciptakan peluang bagi aktivitas ekonomi, investasi dan pariwisata.
"Ketika infrastruktur jalan sudah baik, maka akses masyarakat menjadi lebih lancar. Kondisi ini juga akan membuka peluang investasi baru serta mendorong aktivitas ekonomi dan pariwisata," sebutnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing