-
Tim SAR gabungan telah berhasil menemukan barang-barang pribadi korban (dokumen, dompet, elektronik) serta bagian pesawat (pelampung, fire signal) di sekitar area kepala pesawat yang terletak di jalur pendakian antara puncak dan Pos 9.
-
Proses evakuasi menghadapi kendala berat berupa medan yang sangat curam/ekstrem serta cuaca buruk (kabut tebal), sehingga tim harus menggunakan teknik khusus seperti repling untuk menyisir lokasi.
-
Temuan barang-barang tersebut digunakan sebagai titik koordinat krusial untuk mempersempit area pencarian, dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di tengah kondisi alam yang berisiko tinggi.
SuaraSulsel.id - Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di wilayah pegunungan Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, mulai menunjukkan perkembangan signifikan.
Memasuki hari ketiga operasi, Sabtu (18/1), tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah petunjuk krusial yang mengarah pada lokasi utama jatuhnya pesawat.
Kabar ini menjadi secercah harapan di tengah kecemasan keluarga korban yang menanti kepastian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa tim darat yang menyisir jalur ekstrem antara puncak dan Pos 9 jalur pendakian telah menemukan barang-barang yang diduga kuat milik penumpang dan kru.
Baca Juga:Lebih 20 Tahun Tak Serahkan Fasum, Pemkot Makassar Ultimatum PT GMTD
Penyisiran intensif di medan yang dikenal sebagai jalur tengkorak karena kecuramannya ini membuahkan hasil. Tim SAR tidak hanya menemukan serpihan mesin, tetapi juga barang-barang personal yang menyayat hati.
“Tim SAR gabungan menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik. Selain itu, juga ditemukan beberapa bagian dari pesawat seperti pelampung dan fire signal, di sekitar bagian kepala pesawat,” ujar Arif, Senin 19 Januari 2026.
Temuan ini sangat vital karena menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian serta menentukan strategi evakuasi lanjutan.
Tantangan terbesar yang dihadapi para pahlawan kemanusiaan ini adalah kondisi alam yang tidak bersahabat. Lokasi jatuhnya pesawat berada di area yang sulit dijangkau manusia biasa.
“Medan di lokasi kejadian sangat curam dan berisiko tinggi. Proses pencarian dilakukan dengan teknik khusus, termasuk repling dan pembukaan jalur, sehingga membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat antarunsur,” tambah Arif.
Baca Juga:Pramugari Esther Minta Maaf Sebelum Pesawat Jatuh, Ayah: Saya Berharap Mukjizat Tuhan
Selain kontur tanah yang terjal, cuaca yang berubah-ubah dengan cepat menjadi musuh utama. Kabut tebal seringkali turun tiba-tiba, menghalangi jarak pandang tim darat maupun pemantauan udara.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii, turut memantau langsung jalannya operasi. Ia memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi personel di lapangan yang bertaruh nyawa.
“Penemuan barang-barang milik korban dan bagian dari pesawat menunjukkan bahwa tim SAR gabungan sudah berada sangat dekat dengan titik-titik krusial. Ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan kolaborasi seluruh unsur di lapangan,” tegas Mohammad Syafii.
“Meski menghadapi tantangan besar, tim SAR gabungan tetap bekerja secara maksimal dengan mengedepankan keselamatan personel. Operasi ini akan terus dilanjutkan secara profesional dan terukur hingga seluruh proses pencarian dan evakuasi dapat diselesaikan,” jelasnya.