Kritik Perguruan Tinggi, Prof Mohammad Nuh: Jangan Jadi Kampus Stunting

Indonesia kini memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi

Muhammad Yunus
Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:16 WIB
Kritik Perguruan Tinggi, Prof Mohammad Nuh: Jangan Jadi Kampus Stunting
Ketua Dewan Pers periode 2019-2022, Mohammad Nuh. (Suara.com/Fakhri)

SuaraSulsel.id - Indonesia kini memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi. Sayangnya, belum semua kampus tersebut memiliki kualitas yang baik dan pendaftar yang mencukupi.

Prof. Mohammad Nuh selaku pakar pendidikan dan komunikasi yang juga Mantan Menteri Pendidikan Nasional menyebut, kampus-kampus tersebut sebagai kampus stunting (kuntet).

Dalam Webinar SEVIMA yang dihadiri lebih dari 9.000 Rektor dan Dosen se-Indonesia pada Kamis (08/06) sore, Mohammad Nuh mengajak kampus untuk terus meningkatkan diri dan jumlah mahasiswa.

Jangan sampai, kampus ‘hidup enggan mati pun tak mau’. Karena, masyarakat Indonesia yang butuh berkuliah jumlahnya juga tak sedikit.

Baca Juga:Perguruan Tinggi sebagai Bentuk Pemersatu Keberagaman Indonesia

Ada tiga jenis kampus, kata Nuh, pertama, kampus yang baru didirikan langsung bertemu ajalnya. Kedua, kampus stunting yang hidup enggan mati tak mau. Ketiga, kampus yang berkembang.

"Tentu kita ingin kampus di Indonesia berkembang dan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan jadi kampus stunting, atau biasa orang jawa bilang kuntet. Karena Angka Partisipasi Kasar (jumlah anak Indonesia yang berkuliah) baru 30 persen. Masih jutaan masyarakat belum berkesempatan kuliah,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Nuh.

Tips Agar Kampus Tidak Kekurangan Mahasiswa

Agar kampus terhindar dari kondisi stunting, Pak Nuh membagikan beberapa tips agar kampus bisa terus meningkatkan kualitas dan memiliki jumlah mahasiswa sesuai target.

1) Bangun image kampus

Baca Juga:UGM Raih Peringkat 231 pada QS World University Ranking, Posisi Tertinggi di Indonesia

Agar kampus bisa tumbuh berkembang. Dibutuhkan sebuah image atau citra yang bagus dari kampus tersebut. Karena tak jarang, ada kampus yang kualitasnya sangat baik, tapi belum diketahui masyarakat luas. Sebaliknya, ada pula kampus yang kualitasnya kurang baik tapi populer di masyarakat karena banyak melakukan pencitraan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini