Beberapa perbankan bahkan over likuiditas karena peminjamnya sedikit. Yang masalah adalah mekanisme penyaluran ke UMKM.
"Perlu pendekatan baru, tidak lagi menggunakan pendekatan aset karena itu berat bagi UMKM. Ini juga tugas bagi lembaga penjaminan supaya bank-nya mau masuk," kata Teten.
Menurutnya perbankan memang terlalu takut untuk mencairkan modal bagi UMKM. Mereka tak ingin ambil risiko. Makanya yang harus didorong adalah koperasi simpan pinjam.
"Nah termasuk juga harus ada jaminan bahwa produk UMKM itu jaminan produknya ada yang menyerap dan harganya bisa bersaing sehingga ada kepastian bayar cicilan," tambahnya.
Baca Juga:Hari BPR-BPRS Nasional, Teten Masduki: BPR-BPRS Jadi Mitra Pelaku UMKM
Ia mengaku perbankan mestinya bisa paling depan soal pembiayaan. Briket saja misalnya, sangat diminati oleh pangsa pasar luar negeri. Tidak mungkin UMKM tidak bisa bayar.
"Jadi nanti bahan bakunya bisa dapat dari KUR koperasi, nanti kan modal kerjanya bisa dari perbankan, kan gitu aja solusinya," tuturnya.
Teten menambahkan 17 persen UMKM yang ada ditarget bisa ekpsor. Potensi itu sangat besar sekali, termasuk untuk Sulsel.
Disini, banyak produk yang bisa didorong untuk ekspor. Tak hanya kopi. Ada juga rempah-rempah dan hasil laut.
"Harus diakui kita punya potensi ekspor yang besar tapi tidak maksimal. Kegiatan usahanya masih kecil, produksinya masih rendah. Daya saing produk kita juga masih masalah, maka peningkatan kapasitas produksi dan daya saing produk ini fokus utama yang harus dilakukan," katanya.
Baca Juga:DPR Dukung Program OJK Agar Waspada dengan Investasi Bodong
Masalah terbesarnya juga pada pembiayaan. Presiden RI, Joko Widodo sudah meminta ada sinergi antara kementerian, dan perbankan untuk membiayai ekspor.