
"Jadi tidak hanya tetangga yang jauhi saya, keluarga juga. Begitu pula kalau mau berobat, selalu dipersulit. Pokoknya susah," keluhnya.
Oleh pendamping atau konselor, Rahayu lalu dibekali berbagai keterampilan. Dari situlah, Rahayu mulai bangkit dan terpanggil untuk mendampingi perempuan-perempuan lain yang menjalani nasib sama dengannya.
"Termasuk bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa kami (ODHIV) tidak semengerikan itu. Kami juga sama seperti mereka, karena virus ini tidak sama dengan Covid-19. Bisa menular hanya dengan bersin, tidak," terangnya.
Kini setelah 13 tahun hidup dengan HIV, Rahayu menunjukkan dirinya bisa bertahan dan baik-baik saja. Ia bisa menikah kembali dan memiliki anak-anak yang lucu tanpa mengidap virus yang sama. Anaknya dan suaminya negatif.
Baca Juga:Penelitian FKUI: HIV Berisiko Menetap Pada Homoseksual dan Transgender
Melalui organisasi IPI, Rahayu berusaha membuka mata masyarakat bahwa perempuan ODHIV memiliki hak yang sama dengan perempuan lainnya. Ia berharap stigma selama ini bisa ditekan.
Wakil Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Sulsel Sri Endang Sukarsih menambahkan stigma dan diskriminasi pada Orang Dengan HIV AIDS (Odha) di masyarakat, apalagi lingkungan kerja memang masih sangat tinggi.
"Itu terjadi karena ketidaktahuan atau minimnya informasi yang didapat terkait penyakit HIV AIDS. Jadi orang tahunya, kalau sudah HIV pasti sudah menular," jelasnya.

Ia menjelaskan, HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak mudah menularkan. Penularan hanya terjadi jika terjadi hubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
Namun, pihaknya melihat, faktor penularan telah bergeser dimana transmisi HIV secara heteroseksual menjadi penyebab utama. Beberapa tahun ini, kata Endang, perilaku seks menyimpang menjadi salah satu penyebab utama penularan HIV.
Baca Juga:Hari AIDS Sedunia 2020, Kemenkes Ungkap 3 Indikator Pengendalian HIV-AIDS
Pemerintah Kota Makassar sendiri telah melakukan terobosan yakni dengan memeriksa seluruh ibu hamil dengan tes HIV atau screening.