- Kebakaran hutan seluas 26 hektare melanda Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
- Panas ekstrem dan asap dari kebakaran hutan tersebut mengancam kerusakan permanen pada situs lukisan cadas prasejarah.
- Petugas gabungan menghadapi kendala medan karst yang terjal serta cuaca kering dalam upaya pemadaman kebakaran.
Sebagian besar situs berada di tepian tebing karst yang rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut membuat perlindungan situs semakin menantang ketika kebakaran meluas di kawasan sekitarnya.
Basran menjelaskan, lukisan cadas selama ini dijaga melalui berbagai upaya konservasi, termasuk pembatasan jumlah pengunjung di dalam gua.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan perubahan suhu dan kelembapan yang dapat memengaruhi kondisi lukisan.
Karena itu, kebakaran dengan suhu jauh lebih tinggi berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar dibandingkan perubahan kondisi lingkungan akibat aktivitas pengunjung.
Ancaman ini juga berkaitan dengan proses pelapukan batuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Penelitian pada 2018, sebagaimana dijelaskan Basran, menunjukkan bahwa perubahan suhu dan kelembapan dapat memicu pengelupasan lapisan batuan yang dikenal sebagai fenomena “kulit semangka”.
Proses tersebut terjadi ketika air membawa kristal garam ke dalam batuan pada musim hujan. Saat air menguap pada musim kemarau, kristal garam tertinggal dan terakumulasi.
Perubahan ukuran kristal akibat fluktuasi kondisi lingkungan kemudian mendorong lapisan luar batuan hingga terkelupas.
Kebakaran berpotensi memperburuk proses tersebut karena panas mempercepat perubahan suhu dan kelembapan di sekitar batuan.
“Kalau ini tidak ditangani dengan segera, tidak diambil langkah taktis untuk memitigasi kejadian ini, kita akan kehilangan salah satu bukti luar biasa manusia yang ada di kawasan Karst Maros-Pangkep,” kata Basran.
Baca Juga: Udara Kota Palu Masuk Kategori Tidak Sehat, BMKG Ungkap Penyebab Utamanya
Habitat dan Vegetasi Ikut Terdampak
Meluasnya kebakaran juga mengancam fungsi ekologis kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Vegetasi yang terbakar dapat mengurangi tutupan lahan, merusak habitat satwa, dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap erosi.
Dampak tersebut menjadi perhatian karena bentang karst memiliki karakteristik lingkungan yang khas. Kerusakan vegetasi di lereng terjal berpotensi memperburuk kondisi lahan, sementara pemulihan ekosistem membutuhkan waktu.
Kebakaran yang mencapai zona rimba dan zona inti taman nasional juga memperbesar risiko kerusakan pada kawasan yang seharusnya mendapat perlindungan ketat.
Namun, luas kerusakan vegetasi, jumlah satwa yang terdampak, dan tingkat kerusakan situs prasejarah belum dapat dipastikan hanya berdasarkan luas area yang terbakar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Kebakaran Hutan Karst Maros-Pangkep Ancam Lukisan Prasejarah Berusia 45.000 Tahun
-
Bom Perang Dunia Ditemukan di Pinrang
-
Gara-gara Asap, 1.070 Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin Gagal Terbang
-
Uang Melayang Setengah Miliar Lebih, Janji Lulus Kedokteran Unhas Ternyata Cuma Tipu-tipu
-
Mantan Direktur RSUD Syekh Yusuf Gowa Resmi Masuk Penjara 3 Tahun