Muhammad Yunus
Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:52 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah meluas [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Kebakaran hutan seluas 26 hektare melanda Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
  • Panas ekstrem dan asap dari kebakaran hutan tersebut mengancam kerusakan permanen pada situs lukisan cadas prasejarah.
  • Petugas gabungan menghadapi kendala medan karst yang terjal serta cuaca kering dalam upaya pemadaman kebakaran.

SuaraSulsel.id - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah meluas hingga sekitar 26 hektare.

Selain merusak vegetasi dan habitat satwa, kebakaran ini mengancam situs lukisan cadas prasejarah yang menjadi salah satu bukti tertua keberadaan seni manusia.

Api yang menjalar hingga zona rimba dan zona inti taman nasional itu juga mendekati sejumlah gua prasejarah.

Jarak api yang dilaporkan hanya beberapa meter dari mulut gua membuat kekhawatiran terhadap kerusakan warisan budaya tersebut semakin besar.

Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, mengingatkan bahwa kebakaran di kawasan karst dapat menyebabkan kerusakan permanen pada lukisan cadas.

Dampaknya tidak hanya terjadi ketika api bersentuhan langsung dengan dinding gua, tetapi juga akibat panas dan asap yang menyelimuti kawasan tersebut.

“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi, terutama yang mengandung gambar cadas, pasti akan sangat merusak gambar itu,” kata Basran, Rabu 14 Oktober 2026.

Menurut dia, panas ekstrem dapat mengubah suhu batuan secara drastis dan mempercepat proses pelapukan. Perubahan suhu tersebut berpotensi memicu retakan hingga pengelupasan permukaan batu tempat lukisan berada.

Jika api menyentuh dinding gua secara langsung, kerusakannya bisa lebih parah. Lapisan permukaan batu dapat mengelupas, bahkan batuan berpotensi pecah.

Baca Juga: Udara Kota Palu Masuk Kategori Tidak Sehat, BMKG Ungkap Penyebab Utamanya

Dampak lainnya berasal dari asap kebakaran. Partikel karbon yang menempel di permukaan dinding gua dapat membentuk lapisan jelaga yang menutupi gambar dan mengaburkan warna asli pigmen.

“Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” ujarnya.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah meluas dan mengancam lukisan pra sejarah [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Lukisan Prasejarah Terancam Rusak Permanen

Kawasan karst Maros-Pangkep menyimpan ratusan situs arkeologi yang memiliki nilai penting bagi penelitian sejarah manusia.

Sejumlah lukisan di kawasan ini diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun, termasuk gambar hewan dan cap tangan pada dinding gua.

Data yang disampaikan Basran mencatat terdapat 734 situs prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep. Lebih dari 400 situs di antaranya memiliki lukisan cadas.

Sebagian besar situs berada di tepian tebing karst yang rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut membuat perlindungan situs semakin menantang ketika kebakaran meluas di kawasan sekitarnya.

Basran menjelaskan, lukisan cadas selama ini dijaga melalui berbagai upaya konservasi, termasuk pembatasan jumlah pengunjung di dalam gua.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan perubahan suhu dan kelembapan yang dapat memengaruhi kondisi lukisan.

Karena itu, kebakaran dengan suhu jauh lebih tinggi berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar dibandingkan perubahan kondisi lingkungan akibat aktivitas pengunjung.

Ancaman ini juga berkaitan dengan proses pelapukan batuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Penelitian pada 2018, sebagaimana dijelaskan Basran, menunjukkan bahwa perubahan suhu dan kelembapan dapat memicu pengelupasan lapisan batuan yang dikenal sebagai fenomena “kulit semangka”.

Proses tersebut terjadi ketika air membawa kristal garam ke dalam batuan pada musim hujan. Saat air menguap pada musim kemarau, kristal garam tertinggal dan terakumulasi.

Perubahan ukuran kristal akibat fluktuasi kondisi lingkungan kemudian mendorong lapisan luar batuan hingga terkelupas.

Kebakaran berpotensi memperburuk proses tersebut karena panas mempercepat perubahan suhu dan kelembapan di sekitar batuan.

“Kalau ini tidak ditangani dengan segera, tidak diambil langkah taktis untuk memitigasi kejadian ini, kita akan kehilangan salah satu bukti luar biasa manusia yang ada di kawasan Karst Maros-Pangkep,” kata Basran.

Habitat dan Vegetasi Ikut Terdampak

Meluasnya kebakaran juga mengancam fungsi ekologis kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Vegetasi yang terbakar dapat mengurangi tutupan lahan, merusak habitat satwa, dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap erosi.

Dampak tersebut menjadi perhatian karena bentang karst memiliki karakteristik lingkungan yang khas. Kerusakan vegetasi di lereng terjal berpotensi memperburuk kondisi lahan, sementara pemulihan ekosistem membutuhkan waktu.

Kebakaran yang mencapai zona rimba dan zona inti taman nasional juga memperbesar risiko kerusakan pada kawasan yang seharusnya mendapat perlindungan ketat.

Namun, luas kerusakan vegetasi, jumlah satwa yang terdampak, dan tingkat kerusakan situs prasejarah belum dapat dipastikan hanya berdasarkan luas area yang terbakar.

Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk mengetahui dampak aktual kebakaran terhadap ekosistem dan tinggalan arkeologi.

Basran mengingatkan bahwa kebakaran serupa pernah terjadi di lokasi yang sama pada 2014 atau 2015. Kejadian berulang tersebut menunjukkan perlunya upaya mitigasi yang lebih serius agar kerusakan tidak terus berulang.

Ia mendorong pengelolaan vegetasi di sekitar gua, termasuk penghijauan menggunakan tanaman lokal, untuk membantu menjaga suhu dan kelembapan mikro serta mengurangi paparan debu dan polutan.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah meluas [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Pemadaman Terkendala Medan Terjal dan Cuaca Kering

Upaya pemadaman di Kecamatan Minasatene menghadapi kendala medan karst yang terjal, akses terbatas, angin kencang, dan sulitnya menjangkau titik api di celah bebatuan.

Petugas Manggala Agni bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan pengelola taman nasional terus berupaya menekan perluasan kebakaran. Penambahan personel juga dikoordinasikan dengan Manggala Agni Daops Gowa.

Di sejumlah titik, petugas menggunakan pompa air, selang, serta alat pemadam punggung. Namun, keterbatasan sumber air dan kondisi medan membuat proses pemadaman tidak mudah.

Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama karena petugas menghadapi risiko terjatuh, tertimpa batu, dan terpapar asap.

Untuk titik api yang sulit dijangkau, upaya pemadaman dilakukan dengan pendekatan tidak langsung dan pembuatan sekat bakar di area yang memungkinkan.

Selain menekan perluasan api, petugas memprioritaskan perlindungan permukiman warga yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Perkiraan cuaca juga belum memberikan banyak harapan untuk pemadaman alami dalam waktu dekat.

Nur Rahmi Utami, perkirawan BMKG Sulawesi Selatan, mengatakan wilayah Maros dan Pangkep masih diprakirakan mengalami musim kemarau.

Suhu udara diperkirakan berkisar 25–36 derajat Celsius, dengan kondisi cuaca cerah hingga cerah berawan dalam prakiraan jangka pendek yang disampaikannya.

Angin kencang dapat mempercepat penjalaran api, sedangkan terbatasnya hujan berpotensi membuat vegetasi tetap kering dan mudah terbakar.

Kondisi ini membuat upaya pemadaman dan pencegahan perluasan api menjadi semakin mendesak, terutama untuk melindungi permukiman, habitat satwa, dan situs prasejarah.

Ancaman bagi Warisan Budaya Dunia

Kebakaran di Maros-Pangkep tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut pelestarian warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi dunia.

Kawasan karst ini tengah diupayakan untuk memperoleh pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Menurut Basran, perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan merupakan bagian penting dari upaya tersebut.

Kerusakan lukisan cadas akibat kebakaran dapat menjadi kehilangan yang tidak mudah dipulihkan. Jika lapisan batuan atau pigmen lukisan terkelupas, hujan dan upaya pembersihan tidak akan mengembalikan kondisi aslinya.

Karena itu, penanganan kebakaran perlu disertai pemetaan situs yang berada di sekitar titik api, pemantauan perubahan kondisi gua, dan pemeriksaan oleh tenaga konservasi setelah situasi dinyatakan aman.

Basran menegaskan, langkah mitigasi harus segera dilakukan untuk mencegah api meluas ke kawasan situs lainnya.

Bagi Maros-Pangkep, dampak kebakaran ini jauh melampaui luas lahan yang hangus. Api berpotensi merusak ekosistem karst sekaligus mengancam jejak kehidupan manusia purba yang bertahan selama puluhan ribu tahun.

Kerusakan vegetasi mungkin dapat dipulihkan melalui proses regenerasi alam. Namun, jika lukisan prasejarah rusak atau terkelupas, sebagian bukti sejarah manusia itu bisa hilang untuk selamanya.

Load More