Muhammad Yunus
Selasa, 29 September 2026 | 15:58 WIB
Ilustrasi: Petani menunjukkan kondisi sawah yang mengalami kekeringan di Desa Pematang Bangsal, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis (6/8/2026). [ANTARA FOTO]
Baca 10 detik
  • BMKG menyatakan fenomena El Nino yang kuat di Sulawesi Selatan menyebabkan mundurnya awal musim hujan 2026 hingga 2027.
  • Dampak El Nino tidak memicu kekeringan berkepanjangan karena bertepatan dengan datangnya periode musim hujan di berbagai wilayah.
  • Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggunakan data prediksi BMKG tersebut untuk memperkuat mitigasi potensi bencana hidrometeorologi.

SuaraSulsel.id - Fenomena El Nino masih kuat dan diprediksi bertahan hingga 2027. Namun kondisi tersebut tidak berarti Sulawesi Selatan (Sulsel) akan mengalami kekeringan hingga tahun depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dampak El Nino justru akan bersamaan dengan periode musim hujan Sulsel 2026/2027. Kondisi ini membuat awal musim hujan di sejumlah wilayah mengalami kemunduran.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulsel, Ayi Sudrajat mengatakan El Nino saat ini masih berada pada kategori kuat.

Salah satu dampaknya adalah musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya.

"Posisi El Nino saat ini masih sangat kuat. Salah satu dampaknya jadi mundurnya musim hujan," kata Ayi dalam rapat prediksi musim hujan 2026/2027 di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 29 September 2026

Kata Ayi, El Nino diperkirakan masih bertahan hingga 2027. Namun intensitasnya diprediksi mulai melemah pada Maret hingga Mei 2027.

Kondisi tersebut membuat El Nino berhadapan dengan periode musim hujan Sulsel. Karena itu dampak El Nino tidak serta-merta berupa kekeringan yang berlangsung hingga tahun depan.

"Karena El Nino ketemu musim hujan, makanya dampaknya hanya menimbulkan bergesernya musim hujan. Jadi kalau ada ungkapan El Nino diprediksi sampai tahun depan, betul El Ninonya, tapi 2026-2027 kita masuk fase musim hujan," jelasnya.

"Walaupun El Nino sampai tahun depan berlangsung, bukan berarti kekeringan sampai tahun depan," sambung Ayi.

Baca Juga: Bupati Gowa Dicekal ke Luar Negeri

Musim Hujan Mundur

Ayi menjelaskan awal musim hujan di Sulsel yang biasanya mulai terjadi pada Oktober tahun ini diprediksi mundur ke November.

Bahkan beberapa wilayah baru akan memasuki musim hujan pada Desember 2026 hingga Maret 2027.

"Fenomena El Nino yang dampaknya kemarau lebih panjang. Harusnya Oktober musim hujan, mundur ke November akhir, bahkan ada di awal Desember," sebutnya.

Sekitar 25 persen wilayah Sulsel diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Namun waktunya berbeda-beda karena karakteristik iklim setiap wilayah tidak sama.

Pada November, musim hujan diperkirakan mulai terjadi di seluruh wilayah Luwu Utara, Toraja Utara, Tana Toraja, Palopo, dan Enrekang.

Musim hujan juga mulai memasuki sebagian besar wilayah Pinrang, Luwu, dan Luwu Timur, serta sebagian kecil wilayah Sidrap.

Memasuki Desember 2026, musim hujan diprediksi meluas ke sejumlah wilayah lainnya.

Wilayah yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Desember antara lain Kepulauan Selayar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Makassar, Maros, Gowa, Pangkep, Barru, Soppeng, dan Parepare.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Sinjai dan Bone diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Desember. Kondisi serupa terjadi di sebagian kecil wilayah Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Luwu Timur.

"Biasanya Maros November, tapi karena ada El Nino dia bergeser ke Desember," ujar Ayi.

Tidak semua wilayah Sulsel akan memasuki musim hujan pada akhir 2026. Sejumlah daerah bahkan diprediksi baru memasuki awal musim hujan pada Maret 2027.

Wilayah tersebut antara lain Sidrap dan Wajo, serta sebagian kecil Bone, Sinjai, dan Luwu.

"Itu memasuki musim hujan Maret. Ini ada karakteristik berbeda," jelasnya.

El Nino Bukan Musim

Ayi menegaskan El Nino tidak bisa disamakan dengan musim kemarau ataupun musim hujan.

Musim hujan dan kemarau merupakan pola tahunan, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim yang memiliki siklus tersendiri.

"El Nino berbeda dengan musim. Musim itu tiap tahun ada kemarau dan hujan. El Nino tidak, ada siklusnya," katanya.

Berdasarkan pengamatan, siklus El Nino juga cenderung mengalami perubahan.

Jika sebelumnya fenomena tersebut dapat muncul dalam siklus sekitar tujuh tahun, kini periodenya dapat lebih cepat, sekitar empat tahun.

Karena itu, meski El Nino diperkirakan masih bertahan hingga 2027, Ayi kembali menegaskan kondisi kekeringan di Sulsel tidak akan berlangsung selama fenomena tersebut.

"El Nino memang sampai tahun depan, tetapi karena bersamaan datangnya musim hujan. Kekeringannya tidak terjadi sampai tahun depan. Kekeringannya berhenti sampai Oktober. Pengaruhnya hanya memundurkan musim hujan. Kekeringannya tidak sampai musim depan," tegasnya.

Pemda Diminta Bersiap

Sulsel memiliki karakteristik iklim yang cukup unik. Wilayah pesisir timur dan barat memiliki pola musim hujan yang berbeda, sementara wilayah utara cenderung mendapatkan hujan sepanjang tahun.

Kondisi tersebut membuat informasi prediksi musim hujan menjadi penting bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah antisipasi, terutama menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Asisten I Bidang Pemerintahan Pemprov Sulsel Ishaq Iskandar mengatakan informasi dari BMKG menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah mitigasi.

"Merupakan informasi strategis jadi dasar pemda mengambil keputusan kesiapsiagaan potensi bencana hidrometeorologi," kata Ishaq.

Ia meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi. Salah satunya dengan memperbarui data wilayah yang memiliki potensi rawan bencana.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More