Eko Faizin
Sabtu, 12 September 2026 | 11:14 WIB
Warga antre di SPBU jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar. Warga harus antre hingga tujuh jam demi mendapatkan BBM, Kamis (10/9/2026) malam. [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Pengemudi ojek online bernama Afandi menghabiskan waktu tujuh jam untuk mengantre Pertalite di SPBU Cokroaminoto Makassar pada Kamis (10/9/2026).
  • Pertamina Patra Niaga mencatat antrean panjang BBM terjadi selama tiga bulan terakhir akibat kenaikan aktivitas logistik, disparitas harga, dan indikasi pelangsiran.
  • Pertamina menambah 14 SPBU beroperasi 24 jam sehingga totalnya menjadi 25 titik serta memperketat pengawasan untuk mengatasi kepadatan antrean di Makassar.

SuaraSulsel.id - Afandi hanya bisa menarik napas panjang. Wajahnya terlihat lelah setelah berjam-jam duduk menunggu antrean kendaraan di SPBU Cokroaminoto, Makassar, Kamis (10/9/2026) malam.

Sebagai pengemudi ojek online (ojol), waktu adalah modal. Semakin banyak waktu dihabiskan di jalan untuk mengantar penumpang, semakin besar peluang penghasilannya bertambah.

Namun malam kemarin, sebagian besar waktunya justru habis untuk antre BBM di SPBU.

Sekitar pukul 18.00 WITA, Afandi datang untuk mengisi Pertalite.

Bensin tersebut bukan sekadar bahan bakar untuk motornya, melainkan modal agar ia bisa kembali bekerja keesokan harinya.

Antrean kendaraan saat datang sudah mengular. Situasi serupa juga terlihat di sejumlah SPBU lain di Makassar dalam beberapa waktu terakhir.

Afandi mengaku belum pernah menghadapi antrean BBM sepanjang itu.

"Saya belum pernah lihat dan alami antrean BBM di Makassar seperti ini. Panjang kayak ular sampai antreannya itu sudah lawan arus," keluh Afandi.

Jam terus berjalan. Hingga pukul 23.00 WITA, antrean yang diikutinya hanya bergerak sedikit. Namun Afandi tetap bertahan.

Dia tidak punya banyak pilihan. Pertalite harus didapat malam itu agar motornya bisa kembali digunakan mencari penumpang dan rezeki besok harinya.

"Mau paksa isi Pertamax juga kosong. Jadi ya mau bagaimana, terpaksa antre. Kami orang tidak mampu, tidak bisa apa-apa," ungkapnya.

Setelah menunggu berjam-jam, barulah sekitar pukul 01.45 WITA Afandi mendapatkan giliran mengisi BBM.

Artinya, tujuh jam ia berada di SPBU sejak datang sekitar pukul 18.00 WITA. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menarik penumpang justru habis untuk menunggu.

Untuk sekali pengisian, Afandi mengeluarkan sekitar Rp35 ribu. Jumlah tersebut nyaris menghabiskan penghasilannya hari itu yang memang sangat minim.

"Waktu habis dipakai antre di SPBU," katanya.

Load More