- Pemerintah Kota Makassar melokalisasi ternak sapi di sekitar TPA Tamangapa pada Senin, 24 Agustus 2026.
- Kepala DLH Makassar Helmy Budiman menyatakan kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas daging ternak serta mengurangi risiko longsor.
- Pemerintah menyiapkan pakan organik dari pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan pakan sekitar 1.500 ekor sapi.
SuaraSulsel.id - Pemerintah Kota Makassar melokalisasi ternak sapi yang sering berkeliaran di sekitar area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Makassar sebagai upaya penataan kota dan peningkatan kualitas daging ternak.
Lebih dari itu, upaya yang dilakukan Pemkot Makassar itu juga bagian dari program optimalisasi pengelolaan sampah, sebab ratusan ternak itu akan mendapat pasokan makanan dari hasil pemilahan sampah di pasar-pasar tradisional Makassar.
"Ini juga untuk mengurangi risiko yang bisa muncul seperti longsor dan itu bisa membahayakan," ujarnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar Helmy Budiman di Makassar, Senin 24 Agustus 2026.
Selain sampah, persoalan yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan sekitar 1.500 ekor sapi yang mencari makan di area TPA.
Setelah sampah yang masuk dibatasi dan hanya menerima sampah residu, pemerintah menyiapkan area khusus dan mengupayakan pasokan sampah organik dari pasar sebagai sumber pakan yang lebih aman.
Kebutuhan pakan untuk sapi-sapi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 ton per hari, sementara pasokan organik dari pasar saat ini baru sekitar 10 ton per hari.
"Sampah pasar jenis organik yang telah dipilah disiapkan untuk pakan ternak. Ini agar kualitas daging ternak lebih bagus dan juga jadi solusi untuk sampah-sampah pasar," tambah Helmy.
Pengelolaan sampah di Kota Makassar saat ini memasuki fase baru. Penerapan kebijakan pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi beban TPA sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan pemerintah semata.
Ketua Dewan Lingkungan Makassar Melinda Aksa menambahkan solusi persampahan tidak harus selalu bergantung pada TPA.
Baca Juga: Ini Jadwal Baru Pembuangan Sampah di Kota Makassar, Wajib Diketahui Warga!
Sampah organik rumah tangga dapat diolah secara mandiri melalui berbagai metode sederhana seperti kompos, budidaya maggot, biopori, TEBA, maupun ember tumpuk.
“Kalau sampah organik selesai di rumah, sampah anorganik bisa bernilai ekonomi, maka yang tersisa untuk dibawa ke TPA benar-benar hanya residu. Ini yang kita dorong,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran RT, RW, lurah, camat, kader PKK, serta tokoh masyarakat sebagai agen perubahan.
Edukasi harus dilakukan secara berjenjang agar masyarakat tidak hanya mengetahui aturan, tetapi memahami alasan dan manfaat di balik pemilahan sampah.
Upaya tersebut sejalan dengan target besar Makassar Bebas Sampah 2029, yang menurut Melinda harus dibangun melalui gerakan bersama, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Pemkot Makassar Libatkan Sapi Kelola Sampah Warga di TPA
-
Saksi Lihat Kepulan Asap Saat Pesawat Sukhoi Keluar Jalur, Nyaris ke Jalan Raya
-
Gaji PPPK Guru Bakal Dibayar Pusat, Bagaimana Nasib Nakes?
-
Nyaris Satu Dekade Tak Pulang, Yuni Akhirnya Bertemu Sang Ibu Berkat Kejutan BRI
-
Bupati Gowa Copot 16 Pejabat, Langkah Berani atau Blunder? Ini Respons BKN