Muhammad Yunus
Senin, 20 Juli 2026 | 13:26 WIB
Diska (7 tahun), penumpang KM Nurul Salsa yang tenggelam pada 15 Juli 2026 ditemukan selamat. Usai empat hari terombang-ambing di lautan tanpa makanan [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Diska, bocah tujuh tahun, berhasil selamat setelah terombang-ambing selama empat hari di perairan Sangeang, Nusa Tenggara Barat.
  • KM Nurul Salsa tenggelam pada 15 Juli 2026 di perairan Pulau Polassi setelah mengalami kerusakan mesin kapal.
  • Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap 18 penumpang lain di tengah kondisi cuaca ekstrem laut.

SuaraSulsel.id - Empat hari empat malam bukanlah waktu yang singkat. Terlebih bagi seorang anak berusia tujuh tahun yang terombang-ambing di tengah laut tanpa makanan.

Namun, Diska berhasil melewati semuanya.

Bocah perempuan itu ditemukan hidup di perairan Sangeang, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah menjadi korban tenggelamnya KM Nurul Salsa.

Di balik penyelamatannya, tersimpan kisah pilu yang membuat banyak orang menitikkan air mata.

Awalnya perjalanan Diska sebenarnya begitu sederhana.

Ia hendak menuju Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar bersama kedua orang tuanya menggunakan KM Nurul Salsa.

Sayangnya, pelayaran yang dimulai pada Rabu,15 Juli 2026 itu berubah menjadi mimpi buruk ketika kapal mengalami mati mesin di perairan barat Pulau Polassi sebelum akhirnya karam.

Kepanikan menyelimuti seluruh penumpang.

Dalam situasi kacau itu Diska terpaksa terpisah dari sang ayah.

Baca Juga: IKA Perikanan Unhas: Nelayan Harus Dilibatkan Sistematis dalam Penyelamatan Laut

Ia hanya sempat bertahan bersama ibunya dengan berpegangan pada sebuah rompong nelayan yang hanyut terbawa arus.

Rompong itulah yang menjadi satu-satunya tempat mereka menggantungkan hidup di tengah lautan lepas.

Hari pertama menjadi awal ujian terberat bagi Diska.

Sang ibu yang terus berusaha melindunginya tak lagi mampu bertahan. Ia meninggal setelah berjam-jam dihantam ombak dan cuaca buruk.

Diska masih berada di sisi ibunya.

Ia tetap bertahan di atas rompong bersama beberapa korban lainnya, seolah berharap ibunya akan kembali membuka mata.

Namun, waktu terus berjalan.

Memasuki hari ketiga, kondisi jasad sang ibu mulai membusuk.

Dengan hati yang hancur, para korban yang masih bertahan terpaksa melepaskan jenazah itu ke tengah laut.

Di usia yang baru menginjak tujuh tahun, Diska harus menyaksikan sekaligus merasakan perpisahan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Harapan baru muncul pada hari keempat.

Sebuah kapal nelayan, KMN Sinar Mattoanging 04 Bulukumba melintas di perairan Sangeang yang masuk wilayah Laut Flores, Kabupaten Bima, NTB.

Awak kapal menemukan lima orang yang masih hidup berpegangan di rompong. Termasuk Diska.

Selain Diska, korban selamat yang berhasil ditemukan yakni Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Asseng (23), dan Ardita (17).

Mereka kemudian dijemput langsung oleh Bupati Kepulauan Selayar, Muh Natsir Ali dan dievakuasi menggunakan kapal Badan SAR Nasional.

Diska sudah diserahkan ke pihak keluarga setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Kisah memilukan juga datang dari korban selamat lainnya. Ada Asmal (24) dan Nurmiati (46).

Keduanya mengisahkan bagaimana mereka sempat bertahan bersama lima orang di atas sepotong gabus yang hanyut di lautan.

Namun, cuaca ekstrem, dinginnya laut serta ketiadaan makanan dan minuman membuat satu per satu korban kehilangan tenaga.

Tiga orang meninggal dunia di atas gabus.

Tak ada pilihan lain. Demi keselamatan yang masih hidup, jenazah ketiga korban terpaksa dilepaskan ke laut setelah kondisinya mulai membusuk akibat berhari-hari terapung di tengah samudra.

Kisah-kisah penyintas itu menjadi gambaran betapa kerasnya perjuangan melawan maut di tengah lautan.

Bupati Kepulauan Selayar, Muh Natsir Ali yang menemui langsung para korban mengaku bersyukur mereka berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.

Ia mengatakan kemampuan para korban bertahan selama empat hari empat malam tanpa makan dan minum merupakan sesuatu yang luar biasa.

"Mereka luar biasa. Alhamdulillah mereka masih bisa bertahan hidup di laut empat hari empat malam tanpa makan dan minum," ujarnya.

Saat ini lebih dari 200 personel gabungan yang terdiri atas Basarnas, TNI-Polri, nelayan dan masyarakat dikerahkan untuk menyisir lokasi-lokasi yang diduga menjadi titik hanyut para korban.

Hingga kini, data penumpang KM Nurul Salsa juga masih terus diverifikasi.

Natsir Ali mengakui informasi yang diterima pemerintah daerah masih simpang siur sehingga perlu dicocokkan dengan data resmi Syahbandar, termasuk jumlah penumpang maupun muatan kapal.

Hingga kini dengan ditemukannya tujuh korban selamat, masih ada 18 orang yang belum ditemukan dan pencarian terus dilakukan.

Kepala Penanggulangan Bencana Kantor Badan SAR Makassar, Andi Sultan mengatakan proses pencarian hingga kini masih menghadapi tantangan berat.

Selain area pencarian yang sangat luas, tim SAR juga harus berjibaku dengan gelombang setinggi dua hingga tiga meter disertai angin kencang.

"Tim penyelamat menghadapi kondisi cuaca yang sangat buruk. Gelombang juga naik sampai 2-3 meter dan angin kencang. Itu kendala kita saat ini," kata Sultan, Senin, 20 Juli 2026.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More