- Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU Kota Makassar sejak pertengahan Juni 2026 akibat kelangkaan Biosolar.
- Kondisi antrean tersebut menyebabkan terganggunya operasional angkutan barang, penumpang, serta memicu kepadatan arus lalu lintas di jalan.
- Pertamina menyatakan pasokan aman, namun terjadi peningkatan permintaan karena konsumen beralih ke Biosolar demi pertimbangan ekonomi.
SuaraSulsel.id - Pemandangan antrean panjang kendaraan kembali terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir.
Truk, bus, hingga mobil boks tampak mengular menunggu giliran mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar.
Kondisi tersebut memicu keluhan dari para sopir angkutan barang dan penumpang yang mengaku kesulitan memperoleh solar subsidi.
Mereka bahkan harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar agar kendaraan tetap bisa beroperasi.
Pantauan pada Rabu, 10 Juni 2026, antrean kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di antaranya di Jalan Bawakaraeng, Jalan Perintis Kemerdekaan depan Pintu I Universitas Hasanuddin, SPBU depan Mapolda Sulsel, Jalan Daeng Tata Raya, Jalan AP Pettarani, hingga SPBU di sekitar Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali.
Di beberapa titik, antrean kendaraan bahkan meluber hingga ke badan jalan dan menyebabkan perlambatan arus lalu lintas.
Munawar, seorang sopir bus mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung hampir sepekan terakhir.
Ia menyebut kesulitan mendapatkan solar membuat para sopir harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mencari stok yang masih tersedia.
"Sudah hampir seminggu begini. Susah sekali dapat solar. Kadang harus kita pindah-pindah bahkan sampai keluar dari jalur yang biasa dilewati. Banyak waktu habis di jalan hanya untuk mencari dan mengantre solar," katanya.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Apresiasi Polda dan TNI Bongkar Jaringan Penyelundup BBM Subsidi
Menurutnya, situasi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas operasional angkutan.
Jadwal perjalanan menjadi terganggu karena waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru habis di antrean SPBU.
"Kalau begini terus kami yang rugi. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan juga terganggu. Kadang pengiriman barang lewat bus terlambat karena terlalu lama antre," keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Anwar, seorang sopir ekspedisi. Ia mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan solar subsidi.
Tidak sedikit pengemudi yang memilih datang sejak dini hari demi mendapatkan antrean lebih awal dan memastikan kendaraan mereka tetap bisa beroperasi keesokan harinya.
"Kami berharap bisa normal lagi. Kalau harus antre berjam-jam setiap hari, pekerjaan jelas terganggu. Padahal kendaraan harus terus jalan karena membawa barang kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Menurut para sopir, kelancaran distribusi BBM subsidi sangat penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas transportasi dan distribusi logistik.
Jika antrean terus terjadi, mereka khawatir pengiriman barang ke berbagai daerah juga akan ikut terdampak.
Selain menyulitkan pengemudi, antrean panjang kendaraan di SPBU juga memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama Kota Makassar.
Truk dan bus yang menunggu giliran mengisi BBM kerap memakan sebagian badan jalan sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sendiri memastikan pasokan Biosolar di Makassar dalam kondisi aman dan mencukupi.
Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto menjelaskan antrean yang terjadi bukan disebabkan oleh gangguan distribusi maupun masalah pasokan BBM.
Menurutnya, salah satu faktor yang memicu antrean adalah meningkatnya jumlah konsumen yang beralih menggunakan Biosolar.
"Berdasarkan hasil pemantauan kami, salah satu faktor yang berkontribusi adalah adanya peningkatan jumlah konsumen pada produk Biosolar. Kami melihat terdapat kecenderungan sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan Dexlite maupun Pertamina Dex beralih ke Biosolar karena pertimbangan ekonomi," kata Lilik.
Diketahui, harga Pertamax Turbo di Sulsel kini berada di angka Rp19.850 per liter, naik signifikan dari sebelumnya Rp13.350 per liter.
Sementara, Pertamina Dex kini dibanderol Rp24.450 per liter dari sebelumnya Rp14.800, dan Dexlite naik menjadi Rp24.150 per liter dari Rp14.500.
Peralihan tersebut menyebabkan volume kendaraan yang mengisi Biosolar meningkat dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, stok yang tersedia di sejumlah SPBU lebih cepat tersalurkan sehingga memicu antrean pada jam-jam tertentu.
"Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kendala operasional maupun gangguan pasokan. Justru tingginya konsumsi Biosolar di beberapa SPBU membuat stok yang tersedia lebih cepat habis tersalurkan dibandingkan biasanya," jelasnya.
Meski demikian, Pertamina memastikan distribusi BBM terus berjalan dan pasokan untuk wilayah Makassar serta sekitarnya tetap dalam kondisi aman.
Penyaluran ke SPBU juga terus dilakukan sesuai kebutuhan untuk menjaga ketersediaan stok di lapangan.
Untuk mengurangi kepadatan antrean, Pertamina bersama pengelola SPBU telah melakukan sejumlah langkah antisipasi.
Di antaranya dengan mengatur arus kendaraan dan menempatkan petugas atau marshal di area pengisian BBM agar proses pelayanan berjalan lebih tertib.
Lilik juga mengimbau masyarakat menggunakan jenis BBM sesuai spesifikasi dan rekomendasi pabrikan kendaraan.
Menurutnya, penggunaan BBM yang tepat tidak hanya membantu menjaga performa mesin tetap optimal, tetapi juga mendukung efisiensi konsumsi bahan bakar dan penggunaan energi yang lebih berkualitas.
Sebagai informasi, kuota BBM subsidi yang dialokasikan untuk Sulawesi Selatan mencapai sekitar 1,136 juta kiloliter Pertalite dan sekitar 741 ribu kiloliter solar setiap tahun.
Dengan tingginya mobilitas kendaraan angkutan barang dan penumpang di Sulawesi Selatan, para sopir berharap distribusi Biosolar dapat terus berjalan lancar sehingga aktivitas transportasi dan roda perekonomian masyarakat tidak terganggu oleh antrean panjang di SPBU.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
Terkini
-
Efek Tekanan Ekonomi, Pengguna Dexlite dan Pertamina Dex Beralih ke Solar Subsidi
-
Sulsel Provinsi Pertama Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Indonesia
-
Bayar Mahal Emosi Suporter, PSM Makassar Terancam 'Lumpuh' di Awal Musim Depan
-
Cek Fakta: Benarkah Pemprov Sulsel Habiskan Rp12 Miliar untuk Sekali Makan?
-
Mengintip Potensi Ekowisata Lakkang, Permata Tersembunyi di Tengah Kota Makassar