Muhammad Yunus
Senin, 08 Juni 2026 | 14:02 WIB
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyebabkan kenaikan harga sejumlah perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, dan laptop di Kota Makassar, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Pelemahan nilai tukar rupiah sejak Mei 2026 menyebabkan lonjakan harga perangkat elektronik impor di Kota Makassar.
  • Kenaikan biaya produksi global akibat kelangkaan pasokan chip memicu kenaikan harga berbagai produk gawai secara signifikan.
  • Harga kebutuhan pokok di pasar tradisional turut melonjak, sehingga Bulog mengintensifkan distribusi bantuan pangan bagi masyarakat.

SuaraSulsel.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa hingga ke masyarakat di daerah.

Tidak hanya memengaruhi harga perangkat elektronik impor, gejolak kurs juga ikut menyeret harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran.

Di pusat penjualan elektronik Karebosi Link dan MTC Karebosi Makassar, para pedagang mengaku harus menyesuaikan harga hampir setiap pekan.

Kenaikan paling terasa terjadi pada produk telepon genggam, tablet, hingga laptop yang sebagian besar masih bergantung pada komponen impor.

Amalia (30), salah seorang warga Makassar merasakan langsung dampak kondisi tersebut. Ia mengaku sempat berniat membeli tablet Samsung S10 Lite setelah memantau harga di MTC Karebosi.

Saat mengecek pada Jumat (5/6), harga perangkat itu masih berada di kisaran Rp6,7 juta. Namun hanya berselang dua hari, tepatnya Minggu (7/6), ia mendapat kabar bahwa harga tablet tersebut melonjak menjadi Rp8 juta.

"Saya kan sempat pesan, lalu dikabari katanya harganya naik karena dolar terus naik. Padahal saya cek beda beberapa hari saja, naiknya sampai lebih dari satu juta rupiah," ujarnya, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Amalia, para pedagang bahkan menyarankan calon pembeli agar tidak menunda transaksi apabila memang membutuhkan perangkat elektronik.

Sebab, harga diperkirakan masih akan terus bergerak naik mengikuti fluktuasi dolar AS dan kenaikan biaya produksi global.

Baca Juga: Cara Daftar Online SPMB 2026 Makassar: Panduan Lengkap Pembuatan Akun hingga Seleksi

"Sekarang dikasih tahu kalau ada uang dan sangat butuh langsung beli. Jangan ditunda karena harga akan naik terus," ucapnya.

Kondisi serupa dibenarkan Nana, salah seorang pegawai toko elektronik di kawasan MTC Karebosi.

Ia mengatakan tren kenaikan harga sudah mulai terasa sejak Mei 2026 dan terjadi hampir pada seluruh kategori produk elektronik.

"Naiknya sudah sejak Mei. Yang paling terasa memang HP karena sekarang itu kebutuhan utama masyarakat," katanya.

Tak hanya telepon genggam, kenaikan juga terjadi pada tablet, laptop, jam tangan pintar, hingga kartu memori.

Besaran kenaikannya bervariasi, mulai Rp300 ribu hingga lebih dari Rp1 juta untuk produk-produk yang memiliki permintaan tinggi.

"Yang paling terasa biasanya produk yang banyak dicari seperti iPhone, Samsung, dan Xiaomi. Ada yang naik ratusan ribu sampai jutaan rupiah," ujarnya.

Menurut Nana, kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat ikut melemah. Banyak konsumen memilih menunda pembelian sambil menunggu harga kembali stabil.

"Bukan sepi lagi, sangat sepi sekarang," keluhnya.

Selain dipicu pelemahan rupiah, pedagang juga menyoroti masalah pasokan komponen elektronik global yang belum sepenuhnya pulih.

Sejak akhir 2025, industri teknologi dunia menghadapi tekanan akibat meningkatnya kebutuhan chip untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Lonjakan permintaan tersebut membuat sebagian produsen semikonduktor lebih memprioritaskan produksi chip untuk pusat data dan perangkat AI dibandingkan chip konvensional yang digunakan pada ponsel, laptop, konsol gim, hingga peralatan elektronik rumah tangga.

Akibatnya, biaya produksi sejumlah perangkat elektronik meningkat dan berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

Namun, tekanan terhadap masyarakat ternyata tidak hanya datang dari sektor elektronik.

Di pasar tradisional, sejumlah bahan kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir menjelang Hari Raya Iduladha.

Minyak goreng kemasan dua kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp38 ribu kini naik menjadi Rp47 ribu. Kenaikan juga terjadi pada komoditas cabai, bawang merah, bawang putih, hingga tomat.

Nona, seorang pedagang di Pasar Daya Makassar mengatakan harga berbagai kebutuhan pokok terus bergerak naik sejak beberapa waktu terakhir.

"Pertama karena biaya angkut naik. Plastik kemasan juga naik, jadi hampir semua barang ikut naik," katanya.

Kondisi tersebut diakui oleh Pimpinan Perum Bulog Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Fahrurozi.

Berdasarkan hasil pemantauan pihaknya, memang terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas pangan, terutama beras premium dan minyak goreng.

"Iya, dari hasil pengecekan kami memang ada beberapa kenaikan, terutama pada beras premium dan minyak goreng," ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi, Bulog menggencarkan program intervensi pasar melalui penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Selain itu, distribusi bantuan pangan juga dipercepat untuk menjaga daya beli masyarakat.

Menurut Fahrurozi, pemerintah saat ini masih memiliki cadangan beras dalam jumlah yang cukup besar. Hingga awal Juni 2026, stok beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 894 ribu ton.

Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk mendukung berbagai program pemerintah, mulai dari bantuan pangan, operasi pasar, hingga SPHP yang ditujukan menjaga stabilitas harga.

Di tengah ancaman pelemahan rupiah yang pada Senin, 8 Juni 2026 sudah menyentuh level Rp18.188 per dolar AS, masyarakat dihadapkan pada kenyataan bahwa kebutuhan sehari-hari semakin mahal.

Mulai dari perangkat elektronik yang kini menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern hingga bahan pangan yang setiap hari hadir di meja makan, semuanya ikut terdorong naik.

Bagi konsumen yang berencana membeli gawai baru, para pedagang menyarankan agar tidak terlalu lama menunggu.

Sebab, selama tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan biaya produksi global masih berlangsung, harga perangkat elektronik diperkirakan belum akan kembali turun dalam waktu dekat.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More