- PT Pertamina menaikkan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram di Sulawesi Selatan mulai 18 April 2026 hingga Rp250.000 per tabung.
- Pelaku usaha kecil di Makassar terpaksa menaikkan harga jual produk karena beban operasional meningkat akibat kenaikan harga gas tersebut.
- Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran pelaku usaha terhadap penurunan daya beli konsumen serta potensi peralihan penggunaan ke gas subsidi.
SuaraSulsel.id - Di Makassar, Marsya (43) kembali menimbang biaya usahanya. Bukan karena dagangan ayam gorengnya sepi, tetapi karena harga gas yang berubah.
Kabar kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram yang ia baca sejak Minggu 19 April 2026 petang membuatnya tertegun.
Selama hampir 8 tahun terakhir, ia memilih beralih dari LPG 3 kilogram ke tabung 12 kilogram. Selain karena usahanya yang mulai stabil, ia juga merasa jenis gas tersebut lebih irit dan aman digunakan.
"Sebenarnya bukan cuma karena keuangan yang mulai bagus, tapi irit dan aman ya. Gas 12 kilo jarang kita dengar meledak dibanding yang 3 kilo," ujarnya, Selasa, 21 April 2026.
Namun, keputusan yang selama ini ia anggap tepat kini membawa konsekuensi baru.
Seiring kebijakan penyesuaian harga oleh PT Pertamina (Persero) per 18 April 2026, harga LPG nonsubsidi mengalami kenaikan di berbagai daerah termasuk Sulawesi Selatan.
Di wilayah ini, harga isi ulang LPG 12 kilogram kini berada di kisaran Rp228.000 hingga Rp250.000 per tabung di tingkat agen.
Harga tersebut berlaku untuk wilayah dengan radius hingga 60 kilometer dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) dan dapat bertambah untuk daerah yang lebih jauh karena biaya distribusi.
Bagi Marsya, kenaikan ini terasa langsung. Selama ini ia membeli gas seharga sekitar Rp235.000 per tabung.
Baca Juga: Wagub Sulsel Dorong Perempuan Parepare Jadi Motor UMKM dan Ketahanan Keluarga
Dengan penyesuaian terbaru, ia memperkirakan harga bisa menembus Rp260 ribu-an atau lebih.
"Ini jelas membebani. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan dengan harga makanan," katanya.
Penyesuaian itu tidak bisa dihindari. Ia mulai menaikkan harga jual ayam gorengnya sebesar Rp2.000 per porsi.
Kenaikan tersebut bukan hanya untuk menutup biaya gas, tetapi juga karena harga kemasan yang sudah lebih dulu meningkat.
"Kalau plastik itu sudah naik memang bulan lalu. Jadi ini kombinasi semua dari kebijakan pemerintah sejak Maret," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku khawatir terhadap respons konsumen. Kenaikan harga sekecil apa pun tetap membutuhkan proses adaptasi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Viral Ikan Asin Disemprot Baygon, Alumni Perikanan Unhas Tawarkan Solusi Aman
-
Indonesia Siap Kuasai Pasar Rumput Laut Global, Jajaki Pasar Bioplastik dan Perdagangan Karbon
-
Musik Timur Resmi Bikin Sejarah Baru di AMI Awards 2026
-
Uang Negara Rp40,75 Triliun Mengalir di Sulsel, Begini Rincian Penggunaannya
-
Presiden Prabowo Batal Resmikan Sekolah Rakyat di Makassar