Muhammad Yunus
Selasa, 24 Februari 2026 | 15:30 WIB
Peluncuran Program Kamus Masuk Sekolah versi Kamus Digital Bahasa Makassar, Selasa (24/2/2026), Pemkot menghadirkan inovasi pembelajaran bahasa daerah yang adaptif di era digital [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemkot Makassar meluncurkan Kamus Digital Bahasa Makassar pada 24 Februari 2026 untuk adaptasi digital bahasa daerah.
  • Peluncuran ini bertujuan melestarikan jati diri kultural sekaligus membekali generasi muda dengan kemampuan multibahasa.
  • Program kolaborasi ini ditandai penandatanganan nota kesepahaman untuk implementasi masif di satuan pendidikan.

SuaraSulsel.id - Pemerintah Kota Makassar terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat literasi sekaligus menjaga identitas kultural generasi muda.

Melalui peluncuran Program Kamus Masuk Sekolah versi Kamus Digital Bahasa Makassar, Selasa (24/2/2026), Pemkot menghadirkan inovasi pembelajaran bahasa daerah yang adaptif di era digital.

Program tersebut resmi diluncurkan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Museum Kota Makassar.

Langkah ini disebut bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan konkret untuk menempatkan bahasa Indonesia sebagai pemersatu, melestarikan bahasa daerah sebagai jati diri, serta membekali generasi muda dengan kemampuan multibahasa sebagai kebutuhan global.

Peluncuran mengusung tema “Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa”.

Program ini merupakan kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kota Makassar, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, dan BasaIbuWiki/Sulsel.

Munafri mengapresiasi kolaborasi tersebut sebagai langkah konkret memperkuat pelestarian bahasa daerah di era digital, sekaligus bagian dari peringatan Hari Ibu Internasional 2026.

Ia turut mengutip penekanan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, tentang pentingnya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, melestarikan bahasa daerah sebagai identitas, serta menguasai bahasa asing sebagai kebutuhan global.

“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing,” ujarnya.

Baca Juga: Makassar Sudah Banjir! Cek Daftar 17 Daerah Terancam Bencana Hidrometeorologi Ekstrem di Sulsel

Menurut Munafri, fenomena generasi muda yang mulai enggan menggunakan Bahasa Makassar dalam percakapan sehari-hari berpotensi mengikis identitas kultural masyarakat.

“Hampir kita kehilangan identitas diri karena banyak yang malu memakai bahasa Makassar. Padahal ini adalah jati diri kita,” tegasnya.

Ia menilai kamus digital menjadi solusi adaptif. Melalui platform digital, akses terhadap kosakata dan makna Bahasa Makassar diharapkan semakin mudah dijangkau pelajar.

Munafri juga mendorong agar pembelajaran bahasa daerah tetap diperkuat di sekolah, baik negeri maupun swasta.

Ia mencontohkan sejumlah diksi khas seperti kelo, pappasang, sinrilik, dan royo yang menyimpan nilai budaya dan filosofi tinggi, yang tidak dapat dipahami tanpa penguasaan bahasa.

Di akhir sambutannya, ia menegaskan agar program tersebut tidak berhenti sebagai simbol seremonial, tetapi diimplementasikan secara masif di satuan pendidikan.

Ia meminta Dinas Pendidikan Kota Makassar memaksimalkan pemanfaatan kamus digital sebagai bagian dari penguatan literasi budaya.

“Dengan begitu, kita bisa menjaga dan mempertahankan bahasa daerah sebagai warisan budaya,” tutupnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Ganjar Harimansyah, serta Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum.

Peluncuran ditandai dengan pemukulan gong dan penandatanganan nota kesepahaman antara Hafidz Muksin dan Munafri Arifuddin sebagai bentuk komitmen bersama memperkuat literasi dan pelestarian bahasa daerah di Kota Makassar.

Load More