- Pelatihan "AI Tools for Journalists" diadakan di Makassar pada 2-3 Februari 2026, didukung Google News Initiative (GNI).
- Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas jurnalis dalam verifikasi, investigasi, serta pemanfaatan AI generatif secara etis.
- Peserta belajar menggunakan beragam alat AI seperti Gemini, Pinpoint, dan NotebookLM untuk mendukung kerja jurnalistik mereka.
Andin juga mengaku baru mengenal fitur NotebookLM dalam pelatihan ini. Ia terkejut karena satu tool bisa membantu membuat materi presentasi, audio, hingga video secara singkat.
"Yang paling bikin antusias itu Pinpoint. Saya baru tahu ternyata bisa transkrip tanpa batas durasi. Selama ini aplikasi AI lain yang saya pakai selalu ada limit dan harus upgrade. Di sini ternyata tidak," katanya.
Antusiasme serupa juga datang dari jurnalis senior Makassar, Kamaruddin Azis.
Meski telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik, ia mengaku pelatihan ini memberinya pemahaman baru yang lebih mendalam tentang cara kerja AI.
"NotebookLM itu ternyata keren banget. Bisa bantu bikin infografis yang lengkap, detail, dan menarik untuk media sosial atau grafis di media kita. Ada juga video dan voice," kata Kamaruddin.
Ia menyebut beberapa tools Google seperti Google Trends dan Gemini sebenarnya sudah ia kenal.
Namun, melalui pelatihan ini, ia baru benar-benar memahami bagaimana memaksimalkan fungsinya secara etis dan relevan untuk redaksi.
"Baru hari ini saya tahu cara kerjanya secara detail. Perkara umur bukan batasan untuk belajar AI. Kita hidup di era digital, dan ini sangat bermanfaat untuk redaksi termasuk untuk verifikasi dan investigasi ke depan," ujarnya.
Tak berhenti di situ, Kamaruddin bahkan berencana menularkan ilmu yang ia dapat. Ia ingin menggelar pelatihan bagi citizen journalist atau warga yang aktif memproduksi konten jurnalistik.
Baca Juga: Perilaku Audiens Berubah, Media Diminta Beradaptasi dengan AI dan Medsos
"Supaya mereka tidak salah kaprah pakai AI atau ChatGPT. Kita berbagi ilmu agar tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik," katanya.
Pelatihan ini menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi jurnalisme, melainkan alat yang perlu dipahami dan dikendalikan.
Di tangan jurnalis yang kritis dan beretika, teknologi justru bisa memperdalam liputan, memperkuat verifikasi, dan memperkaya cara bercerita.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- 5 Sepatu Jalan Lokal Tanpa Tali yang Nyaman dan Anti Jebol Menurut Review
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Perempuan Sulawesi Bersuara Desak Moratorium Izin Tambang dan Perlindungan Hutan Hujan
-
Nusron Wahid Masih Bisa ke Luar Negeri, KPK Pertimbangkan Statusnya sebagai Menteri
-
Ini Syarat Anak Disabilitas Masuk Sekolah Rakyat
-
Buruh Sulsel Tuntut UMP 2027 Naik 9,5 Persen
-
Jokowi Tunjukkan Ijazah Depan Wajah Roy Suryo