Muhammad Yunus
Kamis, 22 Januari 2026 | 15:51 WIB
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii menyerahkan black box kepada Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di Kantor SAR Makassar, Kamis, 22 Januari 2026 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Dua kotak hitam pesawat ATR 42-500 ditemukan tim SAR gabungan di Pegunungan Bulusaraung pada 21 Januari 2026.
  • Perangkat tersebut, terdiri dari CVR dan FDR, diserahkan kepada KNKT untuk investigasi penyebab kecelakaan pesawat tersebut.
  • KNKT akan menggunakan data berbasis fakta dari kedua perangkat untuk menyusun laporan dan rekomendasi keselamatan penerbangan.

Perangkat kedua adalah flight data recorder (FDR) yang menyimpan data teknis penerbangan.

Menurut Soerjanto, perangkat ini merekam puluhan parameter penting yang berkaitan langsung dengan kinerja pesawat.

"Yang satu lagi adalah flight data recorder. Ini ada kurang lebih 88 parameter. Ketinggian, kecepatan segala macam yang berisi data penerbangan," ujarnya.

Kedua perangkat ini dikenal secara umum sebagai black box, meski secara fisik berwarna oranye terang.

Soerjanto menjelaskan penamaan tersebut bukan karena warna, melainkan karena isi data di dalamnya yang belum diketahui sebelum dianalisis.

"Nah keduanya ini kenapa disebut black box? Memang sebelum dibuka datanya masih kita belum tahu apa isinya. Makanya dikatakan itu black box," jelasnya.

Ia menambahkan, warna oranye justru dipilih agar perangkat mudah ditemukan di lokasi kecelakaan.

Lebih jauh, Soerjanto menegaskan keberadaan black box menjadi fondasi utama dalam setiap investigasi kecelakaan penerbangan.

Ia tegaskan, investigasi tidak bertujuan mencari kesalahan semata, melainkan menggali pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Enam Jenasah Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Tidak Utuh

"Jadi kenapa ada ide black box ini? Kita sebagai manusia ingin belajar dari kejadian. Jadi ada lesson learned yang tujuannya adalah agar kecelakaan yang sejenis atau serupa di kemudian hari tidak terjadi kembali," ucapnya.

Dari data yang diperoleh, KNKT akan menyusun laporan investigasi lengkap yang disertai rekomendasi keselamatan.

"Kita ingin mengetahui lesson learned dari kejadian ini apa yang menjadi pembelajaran bagi kita untuk perbaikan agar keselamatan khususnya transportasi udara ini akan lebih aman ke depannya," kata Soerjanto.

KNKT juga membuka kemungkinan untuk mengeluarkan rekomendasi keselamatan lebih awal apabila ditemukan hal mendesak dalam proses investigasi.

Hasil investigasi pun akan sepenuhnya berbasis data. Bukan asumsi.

"Bila kita pandang perlu bahwa saat ini memang ada hasil yang masih ada di dalam operasional penerbangan kami akan mengeluarkan rekomendasi segera," ungkapnya.

Load More