- Korban kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 ditemukan tim SAR pada Senin, 19 Januari 2025, di lereng Gunung Bulusaraung.
- Evakuasi jenazah korban sulit dilakukan karena medan ekstrem dan berbahaya; proses penanganan dilanjutkan hari ini.
- Pencarian delapan korban sisa melibatkan warga lokal pemburu madu karena keakraban mereka dengan medan terjal.
"Untuk evakuasi sudah dilakukan briefing teknis. Mekanismenya menggunakan tali dari puncak ke lokasi. Namun untuk penurunan dari puncak ke titik evakuasi masih kami atur secara teknis," jelas Saiful.
Jenazah korban kemudian dibungkus dan digantung pada ketinggian sekitar 25 meter dari titik penemuan.
Proses evakuasi direncanakan dilakukan pada Selasa, 20 Januari 2026 jika cuaca memungkinkan dan kondisi medan dinilai aman.
Hingga saat ini upaya pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung masih menghadapi tantangan besar.
Selain medan yang terjal dengan kemiringan ekstrem, tim SAR juga harus berpacu dengan cuaca buruk yang kerap berubah secara tiba-tiba.
Untuk mengoptimalkan pencarian, tim SAR gabungan akhirnya melibatkan warga lokal yang dikenal paling memahami karakter medan di kawasan tersebut.
Mereka adalah para pemburu madu hutan, kelompok masyarakat yang selama ini akrab dengan lereng-lereng terjal, tebing curam, dan jalur tersembunyi di Gunung Bulusaraung.
Dalam operasi ini, pencarian akan difokuskan dengan memaksimalkan kemampuan navigasi para pemburu madu.
Sebanyak lima tim disiapkan untuk menyisir area-area prioritas yang dinilai paling sulit dijangkau oleh personel SAR reguler.
Baca Juga: Pemburu Madu Hutan Tunjukan Jalur-Jalur Rahasia Gunung Bulusaraung
Pada tahap pertama hingga ketiga, masing-masing tim akan dipimpin oleh satu personel SAR sebagai pemimpin tim gabungan.
Sementara pada tahap keempat dan kelima, pencarian dilakukan oleh dua kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan delapan dan tujuh orang menyesuaikan dengan tingkat kesulitan medan.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii juga mengakui kawasan Gunung Bulusaraung menjadi salah satu tantangan terberat dalam operasi ini.
Meski ketinggian gunung tidak setinggi pegunungan besar lainnya, kontur wilayahnya sangat berbahaya.
"Bulusaraung ini memang terjal. Jurangnya hampir tegak lurus, mendekati 90 derajat, dengan kondisi bebatuan. Cuaca juga tidak selalu bersahabat," kata Syafii di kantor SAR Makassar.
Ia menegaskan seluruh langkah pencarian dilakukan dengan perhitungan matang demi keselamatan personel.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
Terkini
-
Teller Magang Tuntut Pesangon Bank Sulselbar
-
Ini 5 Alasan 30 Organisasi Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD
-
30 Organisasi di Sulsel Tolak Kepala Daerah Dipilih DPRD
-
Cerita Saiful Sisir Lereng Gunung Bulusaraung, Temukan Korban Diduga Pramugari
-
Pemburu Madu Hutan Tunjukan Jalur-Jalur Rahasia Gunung Bulusaraung