SuaraSulsel.id - Istri Wakil Presiden Republik Indonesia, Selvi Ananda membuka acara Warisan Budaya di Makassar, Sulawesi Selatan dengan sambutan yang hangat.
Namun, momen tersebut sempat diwarnai kekeliruan kecil yang menarik perhatian.
Selvi yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina Seruni Kabinet Merah Putih itu dua kali salah menyebut Provinsi Sulawesi Selatan sebagai "Sumatera".
Dalam pidatonya, Selvi menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan budaya daerah yang disebutnya luar biasa.
Apalagi ini bukan kali pertama dirinya datang ke Makassar. Menurutnya, kota ini selalu menarik untuk dikunjungi.
"Mungkin sudah ke tiga kali dan selalu menarik untuk datang ke Makassar," ujarnya di atas podium di Benteng Fort Rotterdam, Kamis, 22 Mei 2025.
Namun dalam bagian awal sambutannya, Selvi keliru menyebut nama provinsi Sulawesi Selatan.
"Jadi banyak sekali yang dimiliki oleh Provinsi Sumatera Selatan ini," ujarnya, sebelum kemudian menyadari kekeliruan itu dan menggantinya dengan Sulawesi Selatan.
Namun, beberapa menit kemudian, kekeliruan serupa kembali terjadi.
Baca Juga: Investasi Bergairah, Realisasi di Sulsel Naik Rp1,4 Triliun
Meski sempat salah sebut, suasana ruangan tetap hangat. Gaya bertutur Selvi yang anggun justru membuat para hadirin, termasuk 30 diantaranya istri para Menteri Merah Putih menyimak dengan santai.
Kekeliruan itu tak menyurutkan pesan utama yang Selvi sampaikan.
Yaitu pentingnya menjaga dan melestarikan keberagaman budaya Indonesia, terutama bahasa daerah yang kian terlupakan oleh generasi muda.
Selvi pun menceritakan pengalaman pribadinya soal bahasa daerah di rumah.
Ia dan suaminya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang sama-sama berasal dari Solo, berkomunikasi dengan bahasa Jawa di rumah.
Namun, menurutnya, anak-anak mereka justru tidak bisa membalas dalam bahasa Jawa meski memahami maknanya.
"Anak saya masih kecil-kecil. Mereka ngerti, tapi tidak bisa jawab pakai bahasa Jawa," ucapnya.
Ia lalu memuji inisiatif pemerintah provinsi Sulawesi Selatan yang menetapkan program satu hari dalam seminggu untuk menggunakan bahasa daerah di sekolah.
Di hadapan para tamu, Selvi juga mencoba menyapa dalam bahasa Makassar.
"Selamat siang Ngaseng Bapak Ibu," ucapnya, disambut tepuk tangan dan tawa.
Ia pun meminta maaf jika pengucapannya keliru.
"Baru diajarkan tadi, mohon maaf kalau aksennya masih salah."
Sambutan Selvi kemudian mengarah pada pentingnya peran perempuan dalam menjaga narasi budaya bangsa.
"Cagar budaya adalah panggung sejarah, dan kita perempuan adalah penjaga narasinya," ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh tamu, terkhusus istri para menteri untuk mendukung UMKM lokal yang turut hadir memamerkan produk kerajinan daerah pada acara tersebut.
"Nah, ini jatahnya Ibu-ibu dari Kabinet Seruni untuk berbelanja. Mari kita dukung UMKM daerah Sulawesi Selatan," ucapnya.
Sementara, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, menyoroti pentingnya pelestarian warisan budaya.
Baik berupa bangunan bersejarah maupun bahasa daerah yang semakin terpinggirkan.
Ia mengingatkan jika tidak dijaga sejak dini, Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, bisa kehilangan jejak sejarah dan identitas budayanya.
"Pemugaran Benteng Somba Opu terus kami dorong. Di sana masih ada masjid tua, pagar, dan struktur benteng yang menjadi bukti bahwa kapal-kapal Belanda pernah bersandar di wilayah ini," ujar Andi Sudirman.
Menurutnya, kawasan tersebut bukan hanya situs sejarah, tetapi simbol peradaban maritim masyarakat Bugis-Makassar.
Selain warisan fisik, Sudirman juga menekankan pentingnya melindungi warisan budaya tak benda seperti bahasa daerah.
Sulawesi Selatan, kata dia, memiliki lebih dari 14 dialek yang berbeda, tetapi penggunaannya semakin tergerus oleh perkembangan zaman.
"Kami sudah menjalankan program satu hari berbahasa daerah di sekolah dan instansi. Ini langkah kecil tapi penting. Kalau tidak dijaga, bisa hilang suatu saat nanti," ucap Sudirman.
Gubernur juga menyinggung potensi wisata budaya dan alam Sulawesi Selatan yang menurutnya belum dimaksimalkan.
Salah satunya adalah kawasan prasejarah Leang-Leang di Maros, yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Global Geopark UNESCO.
Di situs tersebut terdapat lukisan tangan manusia purba berusia 40 ribu tahun. Serta fenomena geologis seperti karang laut yang berada di ketinggian 300 meter.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Kepala Daerah Dipilih DPRD? Parpol di Sulawesi Selatan Terbelah
-
Pemprov Sulsel Umumkan Tender Preservasi Jalan Rp278,6 Miliar
-
Banjir Rendam Donggala, Angin Kencang Rusak Rumah di Palu
-
Korban Meninggal Banjir Bandang Pulau Siau jadi 17 Orang, 2 Warga Hilang
-
Lowongan Kerja PT Vale: Senior Coordinator for Publication, Reporting, and Public Relation