Pong Tiku bersembunyi di bentengnya, di Buntu Batu. Ia kembali mengirim pasukan untuk memata-matai Belanda di Rantepao.
Pada 22 Juni di tahun yang sama, pasukannya melaporkan bahwa pada malam sebelumnya, sebuah batalyon Belanda, sekitar 250 ribu pria dan 500 pengangkut berangkat ke desa tersebut. Tiku kemudian memerintahkan agar jalanan segera disabotase.
Pada tahun-tahun tersebut, Belanda tidak hanya bermusuhan lagi dengan Toraja saja, tapi juga dengan kerajaan Islam di Sulawesi seperti Bone, Gowa, dan Sawito.
Pong Tiku lalu mengadakan gencatan senjata dengan Belanda. Ia kemudian bergerak ke Benteng, di wilayah selatan.
Dari sana dia kemudian ke Alla (Enrekang) dan bertempur bersama orang-orang Duri melawan Belanda. Sayangnya, wilayah itu pada akhirnya jatuh ke tangan Belanda.
Pong Tiku lalu memutuskan untuk bersembunyi di hutan. Namun, pada 30 Juni 1907, Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda.
Pada 10 Juli 1907, Tiku dieksekusi oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan. Ia ditembak mati saat sedang mandi.
Setelah terbunuh dan pengikut Pong Tiku diberantas, Belanda akhirnya bisa menguasai kopi Toraja.
Ruth mengatakan Pong Tiku sebenarnya punya nama asli Matasak. Nama itu adalah pemberian ayahnya.
Baca Juga: Usia 24 Tahun, Monginsidi Dihujani Delapan Peluru di Makassar
Namun, oleh pasukannya dipanggil Pong Tiku. Artinya bapak pengayom dan pemberani. Itu juga yang jadi kebangaan Ruth, kata Matasak di belakang namanya untuk mengenang kakeknya.
Sejak kematiannya, Pong Tiku menjadi simbol perlawanan Toraja. Untuk menghargai jasanya, ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.
Pong Tiku juga jadi nama Bandara di Toraja. Selain itu, pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, di Sulawesi Selatan terdapat nama Batalyon Pong Tiku yang pro Republik, berisikan pemuda Toraja yang dipimpin oleh bekas serdadu KNIL bernama Samuel Tambing.
Kata Ruth, selain cerita heroik, keluarga masih mengenang Pong Tiku lewat sebuah keris pusaka yang dulu digunakan untuk melawan Belanda. Keris itu kini tersimpan rapi di Bandung, Jawa Barat.
"Kami masih menyimpan dengan baik keris miliknya yang dikasih nama Pasang Timbo. Ada di rumah saudara saya di Bandung, itu disimpan di septi box karena dianggap sakral," tuturnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Berangkat Dari Kalimantan, Om Basri Siap Hadapi Penyidik Polda Sulsel
-
Dosen Dipecat Karena Tegur Mahasiswa Berpakaian Ketat? Pimpinan Muhammadiyah Investigasi
-
Disemprot Zulkifli Hasan Soal Sampah, Wali Kota Makassar Ungkap Kendala PSEL Makassar
-
Bukan Lewat Kantor Pos atau Bank, Ini Cara Baru Pemerintah Salurkan Bansos dan Subsidi
-
Zulhas Ultimatum Appi Soal PSEL: Dua Pekan Harus Beres, Kalau Tidak Diambil Alih Gubernur