Lebih jauh Remy mengatakan, "Puisi adalah pernyataan akan apa adanya. Jika puisi adalah apa adanya, dengan begitu terjemahan mentalnya hendaknya diartikan bahwa tanggung jawab moral seorang seniman ialah bagaimana ia memandang semua kehidupan dalam diri dan luar lingkungannya secara menyeluruh, lugu, dan apa adanya. ... Tetapi tanggung jawab penyair yang pertama adalah bahwa sebagai seniman, ia harus memiliki gagasan."
Remy menamatkan sekolah dasarnya di Makasar. Pada tahun 1954 ia melanjutkan sekolahnya ke Semarang dan lulus SMA tahun 1959. Di Semarang ia sempat bermain drama berjudul "Midsummer Night's Dream" karya Shakespeare.
Tahun 1959—1962 ia belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Solo, dan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Solo, kemudian Akademi Bahasa Asing (Jakarta). Kegiatan di bidang jurnalistik, antara lain, menjadi wartawan harian Sinar Harapan (1963—1965), menjadi Redaktur Pelaksana harian Tempo di Semarang (1965—1966), majalah Top (1973—1976), majalah Fokus (1982—1984), dan Redaktur majalah Vista (1984—...).
Dia juga menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung sejak tahun 1971. Dia adalah redaktur pertama rubik "Puisi Mbeling" dalam majalah Aktuil di Bandung (1972—1975).
Bulan Agustus 1968 ia berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan Fred Wetik, salah seorang tokoh di Akademi Teater dan Film (ATF) Bandung. Pada tahun itu Jim Lim (pemimpin ATF) sudah berangkat ke Perancis.
Grup Teater 23761 (Remy Sylado) baru dibentuk akhir tahun 1969. Yang tergabung di dalamnya ialah partisan Jim Lim dan mahasiswa Akademi Sinematografi yang berjumlah sekitar 50 orang.
Di akademi itu Remy mengajarkan bidang Dramaturgi, Ikonografi, dan Make Up. Remy Silado menguasai beberapa bahasa asing, antara lain bahasa Mandarin, Jepang, Arab, Yunani, Inggris, dan Belanda.
Dia mulai menulis ketika berumur 16 tahun. Guru bahasa Indonesianyalah yang mendorong semangatnya untuk terus menulis saat itu. Kegemarannya membaca sejak kecil, tampaknya ikut mendukung keberhasilannya dalam menulis. Sejak kecil, ia sudah membaca buku-buku "berat".
Ketika SD kelas 5, Remy telah membaca buku-buku teologia, membeli buku-buku berbahasa Inggris, dan mempelajari sejarah sehingga mengagumi hampir semua tokoh sejarah. Akan tetapi, ia tidak betah bersekolah dan lebih suka bermain atau membolos.
Baca Juga: Aktor dan Sastrawan Remy Sylado Meninggal Dunia
Remy juga senang akan musik dan ayahnya menyadari bakat anaknya itu sehingga Remy dijuluki Jubal, artinya 'bapak musik', yang diambilnya dari Kitab Genesis. Keluarganya penggemar musik klasik, terutama karya Frederick Handel pada periode Roccoco dan Beethoven, sedangkan Remy menyenangi grup musik Led Zeppelin, Grand Funk, Railroad, dan The Beatles.
Menurut pendapatnya, grup musik tersebut telah mencapai jenis klasik. Aktivitasnya di bidang musik, antara lain, adalah sebagai pembimbing beberapa penyanyi dan perkumpulan band.Dia juga banyak menulis tentang musik dan mementaskan drama yang ditulisnya, seperti Genesis, Generasi Semau Gue, dan Messiah II.
Pada tahun 2000-an Remy menulis artikel lepas untuk mengisi rubik seni "Bentara" Kompas, terutama yang menyangkut pengenalan atas tokoh atau gagasan yang berkembang dalam sastra Barat dan sastra dunia pada umumnya.
Tentang proses kreatifnya, Remy menyatakan bahwa perkembangan dan perubahan pada publik pembaca memperlihatkan bagaimana mereka tidak melulu membaca novel untuk menikmati sebuah cerita, tetapi juga menghendaki adanya suatu gagasan pemikiran yang tertuang di balik cerita.
Oleh karena itu, sebuah novel haruslah dilihat sebagai sebuah kerja riset, sehingga tidak menjadi kering. Gunawan Budi Susanto dalam Suara Merdeka 15 Februari 2004 menyatakan bahwa setelah membaca novel-novel Remy, saya memperoleh makna kemanusiaan, bahwa yang pertama-tama kita takar bukan apakah itu Jawa, Tionghoa, Arab, atau Belanda; bukan pula lelaki, perempuan, atau waria, melainkan apakah ia memang manusia dan masih manusia, bukan buaya dan bukan pula berhala.
Seseorang menjadi jahat, korup, dan berkhianat bukan lantaran ketionghoaan, kebelandaan, atau kearaban yang tampak dalam ciri fisik mereka. Kesadaran itu menghapus prasangka bahwa ada suatu bangsa atau jenis kelamin tertentu yang diciptakan Tuhan semata-mata untuk menjadi jahat atau menjadi pendosa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Ahmad Sahroni: Pengendara Harley Davidson Jangan Norak!
-
Tembus Rp4,7 Triliun! Intip Ke Mana Saja Larinya Belanja Pemerintah Pusat di Sulsel
-
Harga Bahan Melonjak, Program Tiga Juta Rumah Subsidi Presiden Prabowo Gagal?
-
Tri Tito Karnavian Puji Kepemimpinan Gubernur Sulsel Sukseskan Program Zero Dose
-
Ekonomi Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen, 170 Ribu Lapangan Kerja Baru Tercipta