SuaraSulsel.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melimpahkan berkas perkara dan surat dakwaan. Tiga terdakwa perkara dugaan suap pengajuan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN). Untuk Kabupaten Kolaka Timur ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
Tiga terdakwa, yaitu Bupati Kolaka Timur nonaktif Andi Merya Nur, La Ode Rusdianto Emba selaku wiraswasta yang juga adik Bupati Muna La Ode Muhammad Rusman Emba, dan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Kabupaten Muna Sukarman Loke.
"Jaksa KPK Diky Wahyu Ariyanto, Kamis (8/9) telah selesai melimpahkan berkas perkara dan surat dakwaan terdakwa Andi Merya dan kawan-kawan ke Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat," kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri di Jakarta, Jumat 9 September 2022.
Saat ini, kata Ali, penahanan tiga terdakwa tersebut menjadi kewenangan dari pengadilan tipikor.
"Tim jaksa berikutnya menunggu penetapan penunjukan majelis hakim dan penetapan hari sidang dengan agenda pertama pembacaan surat dakwaan," ucap Ali.
Sebelumnya, KPK juga telah menetapkan dua tersangka terkait kasus tersebut, yaitu mantan Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Mochamad Ardian Noervianto dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna La Ode M Syukur Akbar.
Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan Rusdianto Emba sebagai salah satu pengusaha lokal di Sulawesi Tenggara dikenal memiliki banyak koneksi dengan dengan berbagai pihak di antaranya beberapa pejabat baik di tingkat pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Berikutnya, Andi Merya meminta bantuan Rusdianto Emba untuk mengurus pengajuan dana PEN Kabupaten Kolaka Timur di tahun 2021 dengan usulan sebesar Rp350 miliar karena percaya dengan koneksi yang dimiliki Rusdianto Emba.
KPK menduga ada kesepakatan antara Rusdianto Emba dan Andi Merya di mana apabila dana PEN sebesar Rp350 miliar tersebut nantinya cair, maka Rusdianto Emba akan mendapatkan beberapa proyek pekerjaan di Kabupaten Kolaka Timur dengan nilai puluhan miliar.
Untuk proses pengusulan dana PEN itu, Rusdianto Emba diduga bekerja sama dengan Sukarman. Saat itu menjabat Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Kabupaten Muna yang juga dikenal memiliki banyak relasi di pemerintah pusat, salah satunya di Kemendagri.
Dalam suatu pertemuan di Kendari, Rusdianto Emba dan Sukarman kemudian menyampaikan kepada Andi Merya agar pengusulan dana PEN itu dapat berjalan sesuai rencana maka diperlukan sejumlah uang untuk diberikan ke salah satu pejabat di Kemendagri.
Adapun pejabat di Kemendagri yang memiliki kewenangan untuk turut memperlancar proses pengajuan dana PEN adalah Ardian yang menjabat Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah.
KPK menyebut berdasarkan informasi Sukarman, yang memiliki kedekatan dengan Ardian adalah M Syukur Akbar yang menjadi teman seangkatan saat di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
KPK juga menduga Rusdianto Emba dan Sukarman membantu beberapa agenda pertemuan antara Andi Merya dan Ardian di Jakarta sesuai dengan informasi M Syukur Akbar.
Dalam pertemuan tersebut, Ardian meminta sejumlah uang kepada Andi Merya dengan nilai sekitar Rp2 miliar dan disetujui oleh Andi Merya. Untuk proses pemberian uang kepada Ardian itu, Andi Merya mempercayakan sepenuhnya kepada Rusdianto Emba dan Sukarman dengan penyerahan melalui transfer rekening bank dan tunai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Beban Infrastruktur Membengkak, Pemprov Sulsel Usul 360 Km Jalan Provinsi Jadi Jalan Nasional
-
Dugaan Pelecehan Seksual Pimpinan Bank, Netizen Serbu Akun Direktur Utama BSI
-
Mengaku Ketua Panitia, Mahasiswa Unhas Lakukan Pelecehan Seksual Terancam Dipecat
-
Terancam PHK, Pekerja SPPG Kepung DPRD Sulsel: Jangan Hentikan Program MBG
-
Korupsi Kuota Haji Rp622 Miliar, KPK Mulai Bidik Pengisian Kuota PT Makassar Toraja