"Saya tidak berani teriak dan melawan. Antara malu ke mama-papa kalau ketahuan dan dia akan diusir dari rumah. Jadi setiap sudah saya selalu menangis diam-diam," lanjutnya.
Y juga kerap mengajaknya bermain ke belakang rumah. Modusnya adalah bermain tenda. Kadang Saya menolak karena ia tahu Y akan menyodominya. Namun jika ditolak, Y kerap memukulnya.
Saya menjadi korban kekerasan seksual lebih satu tahun. Saat memasuki SMP, ia memilih pindah ke rumah neneknya.
Sejak saat itu hubungan Saya dan kakak kandungnya tidak akur hingga kini. Saya selalu melawan dan merasa dendam dengan saudaranya sendiri.
"Sudah 10 tahun lebih kejadiannya tapi saya masih ingat semua. Saya dendam, saya tidak bisa maafkan secara personal, walau kami masih bicara karena orang tua," terangnya.
Saya mengaku akhirnya punya keberanian menceritakan hal ini kepada ibunya dua tahun lalu. Ia membaca artikel dan berita soal banyaknya penyintas pelecehan seksual yang berani untuk berbicara ke publik sehingga mengikutinya.
Sayang, ibunya langsung jatuh sakit setelah mendengar itu. Ia kemudian mengurungkan niatnya bahkan sempat berencana melaporkan kakak kandunganya ke polisi.
"Saya dilema. Tidak mudah untuk cerita ini ke orang tua, tapi jika dipendam terus saya bergetar setiap dengar berita pelecehan. Jadi itu alasan saya untuk tidak lanjut. Mama pernah mempertemukan saya dan Y bicara. Tapi kakak saya marah besar dan sampai saat ini tidak pernah lagi menghubungi keluarga".
Korban Kecanduan
Baca Juga: Jalan Terjal Mengungkap 'Kuasa' Predator Seks di Lingkungan Kampus
Parahnya, setelah kejadian itu Saya seperti kecanduan seks. Kejadian itu dialami saat ia memasuki dunia perguruan tinggi.
Ia sempat menjalin kasih dengan teman satu fakultasnya, di sebuah perguruan tinggi di Kota Makassar. Pergaulannya saat kuliah bisa dikatakan bebas.
Ia bahkan kerap berhubungan seks dengan kekasihnya. Namun setiap melakukannya, ia selalu teringat akan kejadian saat dilecehkan oleh saudaranya.
"Saya jatuh cinta dan kami mulai berhubungan seks. Alasannya suka sama suka, tapi saya merasa itu akibat pelecehan sejak kecil karena dilakukan berulang kali," ungkapnya.
Saya merasa kecanduan seks hingga tiga tahun. Beruntung ada konsultasi psikologi yang diadakan kampusnya secara gratis. Ia kemudian menceritakan kisahnya dan didampingi psikolog hingga kini.
"Sampai sekarang Saya lebih banyak salat, sibuk bekerja dan melakukan aktivitas sosial termasuk di bidang lingkungan. Saya diminta untuk mencari kesibukan. Sehingga tidak mengingat hal yang bisa menimbulkan hasrat seks. Saya sakit soal psikis, mbak," ujarnya sambil menangis.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Program MYP Irigasi Pemprov Sulsel Topang Swasembada Pangan
-
Pesan Terakhir Hasbiah Sebelum Virgo Transport 8 Tenggelam: 'Jaga Cucu-Cucuta'
-
Ini Agenda Kerja Presiden Prabowo di Sulawesi Selatan
-
BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026 dari Kemenpora, Tegaskan Dukungan untuk Olahraga
-
Koper Penumpang Pesawat Tujuan Makassar Berisi Anak Kera Ekor Panjang