SuaraSulsel.id - Balai Arkeologi Maluku menurunkan tim meneliti dan mengumpulkan data potensi kepurbakalaan. Peninggalan masa prasejarah megalitikum (zaman batu besar) di wilayah Provinsi Maluku Utara.
Bertema "Megalitik Khatulistiwa", penelitian tersebut dipimpin oleh Arkeolog Muhammad Nur dari Departemen Arkeologi Universitas Hassanudin, Makassar.
"Semua kampung lama ada peninggalan megalitik dan itu yang berusaha yang kami teliti selama 21 hari di sini, meneliti dan mengumpulkan berbagai data juga informasi terkait itu," kata Muhammad Nur saat dihubungi dari Ambon, Kamis 24 Juni 2021.
Ia mengatakan potensi kepurbakalaan di Maluku Utara sangat besar, sebarannya cukup merata dan ada hampir di setiap perkampungan lama masyarakat setempat, dan berkaitan dengan tradisi maupun kepercayaan mereka di masa lalu.
Banyak peninggalan berciri megalitikum ditemukan kampung-kampung lama dalam penelitian sebelumnya, salah satunya adalah dolmen (meja batu untuk sesajen).
Karena itu, selain penelitian dalam bentuk pengumpulan data dan informasi, tim yang dipimpinnya juga akan melakukan ekskavasi di dua lokasi di Halmahera dan Tidore.
"Kalau kuantitas terbanyak adalah megalitik, tapi di Halmahera Utara berbeda dengan selatan, di selatan sama sekali tidak ada dolmen, padahal mereka berada di wilayah yang sama, itu juga yang ingin kami cari tahu," ucap Muhammad Nur.
Megalitik Khatulistiwa merupakan penelitian lanjutan Balai Arkeologi Maluku yang sebelumnya dilaksanakan pada 2019, dan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada 2020 tapi tertunda karena pandemi COVID-19.
Pada penelitian sebelumnya ditemukan beberapa peninggalan berciri megalitik dengan keberagaman bentuk dan fungsi untuk pemujaan leluhur seperti altar batu, lumpang batu, lesung batu, batu asah, batu dakon, batu berhias, batu berlubang dan batu bergores tersebar di Pulau Halmahera, Tidore dan Moti.
Baca Juga: Waspada Tsunami, Maluku Utara Diguncang 13 Gempa Susulan Sejak Siang
Selain itu, ditemukan juga "Jere", istilah lokal masyarakat di Maluku Utara untuk menyebut tempat keramat yang biasanya direpresentasikan melalui menhir, bongkahan batu utuh, makam dan pohon-pohon besar dengan pola yang berbeda-beda di Pulau Tidore, Moti, Halmahera dan Mabon.
Jere yang ditemukan di situs Mafujara Pulau Tidore menggunakan medium pemujaan berupa pohon dan batu monolit, Jere di Pulau Moti ditandai dengan susanan batu dengan bentuk persegi yang di dalamnya terdapat batu tegak dianggap sebagai nisan makam, sedangkan Jere di Pulau Mobon ditandai dengan susanan batu dengan bentuk tidak beraturan yang di atasnya terdapat piring.
Sementara di Pulau Halmahera, Jere Wae Mia ditandai dengan pengaturan batu membentuk lingkaran yang di dalamnya diatur sejumlah piring, dan situs Keramat Tanjung Dubu menggunakan medium pemujaan berupa pohon bambu. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
-
Prabowo Lantik Pejabat Sore Ini, Wamenkeu Suahasil Tiba di Istana dan Bakal Gantikan Purbaya?
-
Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
Terkini
-
Karyawan SPBU Makassar Jatuh Sakit, Video Prabowo Ini Disebut Membuat Panjang Antrean
-
15 Tahun Mengabdi, Mantri BRI Dewi Natalia Jadi Benteng Debitur Mikro dari Rentenir
-
Basarnas Makassar Kerahkan KN SAR Kamajaya Cari Korban KMP Virgo Transport 8
-
Penampakan SPBU Modular di CPI Makassar, Mulai Beroperasi Hari Ini
-
Pertamina Janji Dua Hari ke Depan Kondisi SPBU di Makassar Normal