Setiap perempuan yang dibantu dalam proses persalinan juga tidak dikenakan biaya oleh Daeng Lusing. Karena ilmu dukun yang dipelajari Daeng Lusing memang digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, tanpa harus mendapat imbalan upah atas jasa dukun baranak yang ia jalankan.
"Tidak dibayar. Saya juga cukup bersyukur kalau yang dibantu sudah sehat dan melahirkan," ujar Daeng Lusing.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman. Daeng Lusing pun sudah tidak aktif lagi sebagai dukun beranak. Kini dia menjalani aktivitas sebagai petani di Desa Pao, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa untuk menghidupi keluarganya.
Selain bertani, Daeng Lusing juga dikenal sebagai pawang hujan, menaman obat-obat herbal, dan sesekali mendampingi warga ke puskesmas setempat yang meminta pertolongannya saat ingin melahirkan.
"Karena dianjurannya puskesmas itu, tidak bisa jadi dukun beranak. Tapi kalau mendampingi bisa. Jadi saya ini biasa memang mendampingi orang sampai puskesmas. Biasa dikasih air, bahkan terkadang bidan ini minta kasih lagi air supaya bisa membantu persalinan," katanya.
Program Kemitraan Bidan dan Dukun
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan Muhammad Ichsan Mustari mengemukakan, keberadaan dukun beranak di Sulsel saat ini memang telah berkurang.
Hal ini terjadi karena jumlah bidan-bidan di desa semakin diperbanyak. Agar masyarakat yang ingin melahirkan mendapatkan pelayanan persalinan yang lebih aman.
Saat disinggung terkait program kemitraan dukun beranak dan bidan, Ichsan Mustari tidak memungkiri adanya program tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu peran dukun beranak dalam membantu proses persalinan pelan-pelan akan menghilang.
Baca Juga: Guardiola Gagal Menangi Liga Champions karena Dikerjai Dukun Afrika, Benarkah?
Karena itu, ia berharap kedepannya semua proses persalinan dapat ditangani oleh tenaga kesehatan. Tetapi, jika masih ada dukun beranak yang ingin melakukan proses persalinan maka akan dilakukan pembinaan. Agar dapat memberikan pelayanan yang lebih aman.
"Iya ada program itu. Tapi kan pelan-pelan kita harap dukun beranak itu sudah tidak ada. Kita penguatan-penguatan bidan desa. Jadi indikator-indikator kita seberapa banyak persalinan ditangani di fasilitas kesehatan. Semakin banyak kan semakin bagus," kata dia.
"Iya, kita berharap bukan lagi dukun beranak supaya aman. Cuma kalau masih ada kita bina mereka. Tidak bisa juga kita larang. Tidak etika itu kalau begitu, tapi pelan-pelan dengan bertambahnya bidan desa kan. Berarti semakin kurang juga dukun beranak," sambung Ichsan Mustari.
Ichsan Mustari mengaku belum dapat memastikan berapa banyak jumlah dukun beranak yang masih aktif melakukan proses persalinan di Sulsel.
"Jumlah nanti saya kasih. Tidak terlalu banyak juga barang kali. Cukup ya, karena saya bawa materi ini," katanya.
Kontributor : Muhammad Aidil
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar