SuaraSulsel.id - Realisasi investasi di Sulsel tahun 2020 tercatat melebihi target. Namun, pencapaiannya tidak setara dengan serapan tenaga kerja.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Sulsel mencatat realisasi tahun 2020 melebihi target RPJMD yang mencapai Rp 12,541 triliun atau sekitar 104 % dari target RPJMD 2020. Sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi yang paling bergairah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel Jayadi Nas mengaku, kendati dikepung investor, serapan tenaga kerja dari jumlah investasi di Sulsel masih rendah.
Sepanjang tahun 2020, hanya ada 6.137 orang tenaga kerja indonesia yang dipekerjakan di Sulsel.
"Sementara 241 orang sisanya yang terserap tenaga kerja asing. Ini cukup rendah dibanding serapan tenaga kerja tahun-tahun sebelumnya," ujar Jayadi Nas, Selasa (2/2/2021).
Seharusnya, dari jumlah investasi yang masuk, tenaga kerja yang diserap bisa diatas angka 20 ribu orang.
Menurut Jayadi, ada beberapa faktor yang menjadi kendala. Salah satunya adalah penanaman modal asing (PMA) selama 2020 merosot. Perusahaan luar negeri memilih "wait and see" karena pandemi.
"Selama tahun 2020 perusahaan asing yang masuk ke Sulsel hanya 525 proyek. Sementara dibandingkan dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN) 1.981 proyek. Tapi PMDN ini hanya perusahaan-perusahaan kecil, hanya 500 juta ke bawah," bebernya.
Pakar ekonomi Universitas Hasanuddin, Anas Iswanto Anwar mengatakan, tak hanya di Sulsel, hal ini sudah menjadi masalah nasional setiap tahunnya.
Baca Juga: Lakukan Isolasi Mandiri, Wali Kota Palopo Judas Amir Positif Covid-19
Tingginya investasi tidak mendorong penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Sehingga menyebabkan kesenjangan pendapatan yang dilihat dari angka gini ratio.
"Investasi yang masuk memang dari segi jumlahnya meningkat tapi tidak membuat kesempatan kerja lebih besar, hanya pengangguran yang bertambah. Artinya investasi yang masuk bersifat padat modal, padahal seharusnya kita mencari inventasi yang padat karya atau investasi yang membuka kesempatan kerja yang besar," terang Anas.
Menurut Anas, pemerintah seharusnya tak hanya sekadar memburu investasi saja, tapi juga lebih memfokuskan pada investasi yang dapat menyiapkan kesempatan kerja.
"Pemerintah harus memprioritaskan investasi yang membuka kesempatan kerja, tidak sekadar masuk saja itu investasi," katanya.
Menurutnya, meningkatnya jumlah investasi memang mendorong pertumbuhan ekonomi. Hanya saja tak serta-merta memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.
"Apakah kita kejar pertumbuhan ekonomi ataukah kesejahteraan masyarakat? Jangan selalu mau pencitraan saja bahwa pertumbuhan ekonomi kita di sini tinggi tapi kesejahteraan masyarakat kita kurang, banyak yang menganggur," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar