Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Kamis, 31 Desember 2020 | 18:26 WIB
Pemuda di KBA Burasa Rappocini Makassar memproduksi sabun SANRISE. Menggunakan bahan baku jeruk nipis. / [Foto Istimewa]

SuaraSulsel.id - Hujan di akhir tahun 2020 mengguyur Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa Rappocini Makassar. Oleh warga, lokasi di Kota Makassar ini biasa juga disebut Kampung Burasa.

Burasa diambil dari nama makanan khas di Sulawesi Selatan. Kata Burasa juga kependekan dari Budaya Rappocini Sehat dan Aman.

Bertempat di salah satu rumah warga, Muhammad Dany Gumara menjelaskan cara pemuda di KBA Burasa mengolah sejumlah bahan menjadi sabun cuci tangan.

Dany mengambil 1 liter perasan jeruk nipis. Dicampur dalam 10 liter air bersih. Kemudian menuangkan 1 Kilogram texapon. Dicampur 500 Gram sodium sulfat. Lalu diaduk sampai merata.

Baca Juga: Ekspor Kendaraan dari Grup Astra Mencapai 61 Persen Total Ekspor Nasional

Setelah tercampur sempurna, masukan air dengan campuran texapon dan sodium ke dalam 1 wadah. Lalu aduk sampai merata. Kurang lebih 10 menit.

Setelah bahan mengental dan padat, tuangkan pewangi lemon 15 Gram dan pewarna makanan 5 Gram. Setelah bahan tercampur baik. Diamkan selama 1 sampai 2 hari.

"Harus diendapkan, untuk menghilangkan busa yang masih tumpah," ungkap Dany kepada Suara.com, Kamis (31/12/2020).

Setelah menunggu dua hari, Danny bersama teman-temannya bisa mendapatkan 8 liter sabun cair. Jika menggunakan komposisi bahan yang dicontohkan.

Sabun cair ini kemudian dikemas dalam berbagai ukuran. Diberi nama SANRISE. Artinya Sabun Rappocini Sehat.

Baca Juga: Grup Astra Berpartisipasi dalam Ekspor Nonmigas Masa Pandemi COVID-19

Warga membeli sabun cuci tangan SANRISE produksi KBA Burasa Rappocini Makassar / [Foto Istimewa]

Saat Kecamatan Rappocini disebut Gugus Tugas Covid-19 masuk zona merah, SANRISE dibagikan gratis ke sejumlah warga di Kampung Burasa.

Para pemuda juga menyiapkan SANRISE lengkap dengan wastafel di sejumlah lorong. Agar warga bisa mencuci tangan sebelum masuk ke lingkungan KBA.

"Lorong 3 dan Lorong 5," kata Dany.

Tidak hanya membantu warga Kampung Burasa, Pemuda SANRISE juga menyumbangkan hampir 3000 bungkus SANRISE untuk warga Kota Makassar. Sabun diserahkan melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Makassar.

SANRISE ikut mengkampanyekan pentingnya menjaga protokol kesehatan. Dengan cara menuliskan kalimat kampanye di kemasan sabun.

Beberapa kalimat kampanye dengan tagar #LAWANCovid-19, #MakassarSEHAT, dan # diRUMAHAJA ditempel di kemasan. Berdampingan dengan logo KBA Burasa Rappocini dan Grup Astra.

"Semua merasakan manfaatnya," kata Wanny, Humas Astra Grup Makassar sekaligus perwakilan Astra di KBA Burasa Rappocini.

Wanny mengatakan, selama pandemi Covid-19, permintaan terhadap SANRISE meningkat. Karena sejumlah kantor dan warga sudah mulai paham pentingnya cuci tangan. Untuk membunuh bakteri dan virus.

Kantor-kantor di Kota Makassar sudah mewajibkan karyawan dan pengunjung mencuci tangan. Sebelum masuk ke dalam area kerja.

"Rata-rata setiap bulan produksi 50 liter. Tergantung jumlah pesanan," kata Wanny.

Humas Grup Astra Makassar Wanny menyalurkan bantuan 3000 kemasan sabun cuci tangan SANRISE ke Gugus Tugas Covid-19 Kota Makassar / [Foto Istimewa]

Awal Mula Usaha SANRISE

Usaha pembuatan sabun cuci tangan SANRISE dimulai tahun 2019. Sebagai salah satu pilar program dari KBA. Menghadirkan kegiatan usaha di setiap kawasan kampung binaan.

Empat pilar KBA adalah pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Muhammad Dany Gumara selaku koordinator usaha sabun SANRISE mengatakan, usaha pembuatan sabun cuci tangan berasal dari ide pengelola KBA Burasa. Memberdayakan anak muda di Kampung Burasa agar punya penghasilan tambahan.

Sejak awal program, sampai sekarang masih bertahan belasan anak muda yang awalnya tertarik belajar. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada ibu rumah tangga, mahasiswa, dan pengemudi online.

Humas Astra Grup Makassar Wanny mengaku, usaha pembuatan sabun cuci tangan dipilih warga dari sekian banyak usulan usaha. Karena proses pembuatan sabun dianggap mudah dan murah.

Sabun SANRISE juga bisa dimanfaatkan untuk cuci piring. Menjadi kebutuhan pokok ibu rumah tangga di KBA Burasa. Sehingga ada pasar yang potensial.

Untuk melanjutkan ide ini, Astra menghadirkan fasilitator dari Universitas Hasanuddin. Melatih pemuda di Kampung Burasa cara membuat sabun cair, struktur organisasi, hingga manajemen usaha.

Semua biaya dan fasilitas yang dibutuhkan saat merintis usaha pembuatan sabun ditanggung Astra.

"Kurang lebih satu minggu dilatih dan didampingi. Setelah itu pemuda yang terlibat bisa mandiri. Sampai sekarang," kata Wanny.

Pemuda yang terlibat dalam kegiatan SANRISE berjumlah 12 orang.

"Tujuan kita dari Astra bagaimana program ini bermanfaat bagi masyarakat. Bukan mencari keuntungan," kata Wanny.

Riski Iswatum Fasilitator Lokal di KBA Burasa mengaku, tidak sulit mentransfer pengetahuan kepada anak-anak muda di Rappocini.

Dampak yang dirasakan setelah pelatihan, anak muda yang terlibat memiliki loyalitas dan rasa kepemilikan usaha yang kuat.

Minat dan partisipasi anak muda dengan usaha ini sangat bagus. Mereka terlibat dalam proses produksi tanpa berharap harus mendapatkan gaji.

"Sehingga anak-anak muda lebih produktif dalam berwirausaha," kata Riski.

Proses pendampingan terhadap anak muda hanya dilakukan saat program dimulai. Setelah dilepas, anak-anak muda yang diberi amanah mampu mandiri.

"Mulai proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran sudah bisa dilakukan secara mandiri," ungkap Riski.

Awalnya usaha ini murni untuk menghidupkan usaha dalam Kampung Burasa. Melibatkan anak muda dan perempuan di lorong-lorong. Saat pandemi Covid-19 melanda, permintaan akan sabun cuci tangan melonjak.

Usaha SANRISE KBA Burasa pun kecipratan rejeki. Banyak pesanan sabun untuk dibagikan kepada warga. Ada juga yang digunakan untuk kepentingan donasi di tengah pandemi.

Produk SANRISE ukuran 5 Liter / [Foto Istimewa]

Manajemen Usaha SANRISE

Usaha sabun cuci tangan SANRISE dijalankan berlandaskan pada prinsip kebersamaan. Menerapkan sistem bagi hasil.

Ade Irma Fithria, Bagian Pemasaran Sabun SANRISE mengatakan, sabun dijual ke sejumlah perusahaan dan kantor-kantor. Ada juga yang dijual langsung ke warga di sekitar KBA Burasa.

"Tapi sekarang lebih fokus ke kantor-kantor. Karena semua terapkan protokol kesehatan. Mewajibkan karyawan dan tamu cuci tangan," kata Irma.

Metode pemasaran juga dilakukan lewat media sosial. Seperti facebook dan instagram.

Setiap bulan Pemuda SANRISE memproduksi 30 sampai 50 liter sabun cair. Dikemas dalam berbagai ukuran.

Setiap kali produksi, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 400 ribu. Kemudian harga produk dijual sesuai dengan besar kecilnya kemasan.

Kemasan 350 Mili Liter dijual Rp 5 ribu. Kemasan 5 Liter diberi harga Rp 75 ribu.

Setiap hasil penjualan akan disimpan. Setelah mengembalikan modal produksi, keuntungan yang diperoleh setiap bulan akan dibagi kepada jumlah orang yang bekerja.

Sejak bergabung, Irma mengaku banyak mendapatkan manfaat. Selain pengetahuan dan pengalaman berwirausaha, Irma mengaku bisa bersosialisasi dengan warga di Rappocini.

"Memberi kesan yang baik pada anak muda Rappocini," ungkapnya.

Sabun SANRISE produksi KBA Burasa Rappocini Makassar / [Foto Istimewa]

Pemuda SANRISE tidak hanya mengandalkan anggota untuk melakukan pemasaran. Jika ada warga yang tertarik menjual produk SANRISE akan diberikan kesempatan. Setiap hasil penjualan akan diberikan komisi.

Wanny mengaku, usaha SANRISE saat ini masih fokus melayani pesanan dari perusahaan. Setiap bulan sudah ada perusahaan dari Grup Astra yang menjadi langganan.

Sebanyak 20 anak perusahaan Grup Astra di Kota Makassar dan sebagian daerah di Sulawesi Selatan sudah memanfaatkan produk SANRISE.

"Alhamdulillah sudah ada yang kontrak juga," kata Wanny.

Wanny berharap usaha sabun cuci tangan ini bisa berkembang. Menjadi perusahaan yang merekrut banyak tenaga kerja.

"Karena selama ini masih dijadikan penghasilan sampingan anak muda di Rappocini," katanya.

Saat pandemi, banyak usaha yang gulung tikar. Kehadiran usaha sabun cuci tangan dan cuci piring SANRISE bisa sedikit membantu warga yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Jika ada permintaan dalam jumlah besar, warga di KBA Burasa yang menjadi korban PHK akan dipanggil untuk terlibat produksi.

"Penghasilannya tidak banyak, tapi bisa meringankan beban di tengah pandemi," kata Wanny.

Untuk membesarkan usaha ini, kata Wanny, pengelola harus lebih gencar melakukan promosi. Meningkatkan jumlah penjualan. Agar semakin banyak produksi dan keuntungan yang bisa diperoleh.

Bahan yang digunakan untuk membuat sabun juga mudah diperoleh. Hasil uji laboratorium menunjukkan SANRISE efektif membunuh bakteri dan kuman.

"Aman untuk kulit," ungkap Wanny.

Astra Motor Makassar yang menjadi pelanggan produk SANRISE mengaku senang dengan sabun cuci tangan ini. SANRISE digunakan di sejumlah bengkel motor di Makassar.

Aromanya khas jeruk nipis. Tidak kalah dengan produk lain yang sejenis.

"Terima kasih sudah membantu kami," kata Syarif, EHS Astra Motor Makassar.

Load More