- Seorang pemuda tewas akibat sabetan senjata tajam dalam tawuran kelompok di Pasar Lelong Makassar pada 15 Oktober 2026.
- Bentrokan antarwarga yang melibatkan emak-emak terjadi di Jalan Abu Bakar Lambogo menggunakan busur, batu, serta petasan.
- Polisi menangkap sejumlah pelaku di Kecamatan Tallo setelah remaja diiming-imingi uang seratus ribu rupiah untuk menyerang lawan.
SuaraSulsel.id - Aksi tawuran atau perang kelompok menjadi sorotan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan terjadi di sejumlah lokasi dengan pemicu yang beragam.
Dampaknya pun serius. Mulai dari korban jiwa, tawuran yang melibatkan emak-emak, hingga remaja yang diduga diiming-imingi uang Rp 100 ribu untuk ikut menyerang kelompok lawan.
Rentetan kejadian ini memperlihatkan bagaimana perselisihan yang awalnya sepele bisa berkembang menjadi kekerasan berkelompok.
Baca Juga:Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah
Bahkan, dalam salah satu kasus, persoalan uang Rp 30 ribu disebut menjadi awal perselisihan sebelum meluas menjadi tawuran yang melibatkan sejumlah remaja.
Berikut tiga kasus tawuran di Makassar yang bikin geleng-geleng kepala pekan ini.
1. Tawuran di Pasar Lelong Berujung Maut, Pemuda 22 Tahun Tewas
Tawuran antarkelompok di depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau Pasar Lelong, Kecamatan Mariso Makassar, berujung maut. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026 dini hari.
Seorang pemuda bernama Aril alias Gimpe (22) meninggal dunia setelah mengalami sejumlah luka sabetan senjata tajam.
Baca Juga:Uang Melayang Setengah Miliar Lebih, Janji Lulus Kedokteran Unhas Ternyata Cuma Tipu-tipu
Kasi Humas Polrestabes Makassar, AKP Jafar Ahmad mengatakan bentrokan tersebut melibatkan kelompok Rajawali Kokolo Jia dan Rajawali Rusun. Aril diketahui merupakan anggota kelompok Rajawali Kokolo Jia.
Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Stella Maris. Namun, nyawanya tidak tertolong dan dia dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Meninggal di rumah sakit Stella Maris," kata Jafar, Kamis, 15 Oktober 2026.
Luka yang dialami Aril tersebar di sejumlah bagian tubuh, mulai dari jidat, pipi kanan, kepala, leher, punggung kiri, pinggang kiri, dada kanan, lengan kanan, hingga kaki kanan.
Kata Jafar, bentrokan diduga dipicu aksi anggota kelompok Kokolo Jia yang menggeber-geber sepeda motor di dekat anggota kelompok Rajawali Rusun.
Aksi tersebut memicu ketersinggungan hingga berujung saling serang.
"Pemicu karena ketersinggungan. Ada kelompok Kokolo Jia diduga gas-gas motornya dekat anak Rajawali Rusun," ujar Jafar.
Polisi masih menyelidiki kasus tersebut untuk mengidentifikasi pihak yang menyebabkan korban meninggal dunia. Petugas juga mengumpulkan bukti di sekitar lokasi kejadian.
2. Libatkan Emak-emak
Sehari sebelumnya, tawuran antarkelompok juga terjadi di Jalan Abu Bakar Lambogo (Ablam), Kecamatan Makassar pada Rabu, 14 Oktober 2026 malam.
Bentrokan melibatkan dua kelompok warga yang dikenal dengan nama Jor-joran dan Loner.
Kedua kelompok dilaporkan saling serang menggunakan busur panah, batu, dan petasan. Situasi semakin sulit dikendalikan karena banyak perempuan, termasuk emak-emak, ikut berada di tengah bentrokan.
Panit Opsnal Polsek Makassar, Aiptu Abdul Rais mengatakan polisi harus berupaya membubarkan massa dan mengimbau warga kembali ke rumah masing-masing.
Petugas bahkan melepaskan tembakan peringatan untuk meredakan situasi.
"Iya, perang kelompok. Ada namanya kelompok Jor-joran sama Loner di Jalan Ablam," kata Abdul Rais, Kamis, 15 Oktober 2026.
Dia mengatakan banyaknya ibu-ibu yang terlibat membuat proses pembubaran tidak mudah.
"Mereka pakai busur, ada yang lempar batu, kebanyakan ibu-ibu. Sehingga kita telah membubarkan semua, mengimbau warga untuk masuk di rumahnya," ujarnya.
Tawuran tersebut diduga dipicu persoalan penggunaan senjata jenis softgun oleh warga dari kelompok lain. Namun, polisi masih menyelidiki pihak yang membawa senjata tersebut.
Dalam pembubaran itu, polisi menyita sejumlah busur panah dan petasan. Tidak ada pelaku yang diamankan karena kedua kelompok akhirnya diminta menahan diri.
3. Dibayar Rp 100 Ribu untuk Ikut Tawuran
Kasus lain yang mengundang perhatian terjadi dalam bentrokan kelompok Sinassara dan Buloa di Kecamatan Tallo.
Dalam perkara ini polisi mengungkap dugaan adanya iming-iming bayaran Rp 100 ribu kepada remaja untuk ikut perang kelompok.
Kapolsek Tallo, AKP Asfada mengatakan bentrokan awalnya dipicu perselisihan dua remaja berinisial IY dan IZ terkait uang Rp 30 ribu yang hilang.
Perselisihan itu berkembang menjadi perkelahian setelah masing-masing memanggil teman mereka.
"Ada perselisihan antara IY dan lelaki IZ ini. Ada masalah uang hilang Rp30 ribu terus keduanya berkelahi. Panggil lagi temannya masing-masing," kata Asfada.
Polisi kemudian menangkap empat orang berinisial ST (14), FI (18), IY (19), dan MF (15).
Salah satu di antaranya, ST, disebut merupakan anggota geng motor Pabassi yang diduga diiming-imingi uang Rp 100 ribu untuk ikut tawuran.
"Yang mana salah satu yang dipanggil adalah lelaki ST yang ternyata merupakan salah satu anggota geng motor dari Pabassi yang diiming-imingi uang sebesar Rp 100 ribu rupiah," ujar Asfada.
Dalam bentrokan itu, para remaja disebut membawa sejumlah benda yang digunakan untuk menyerang, termasuk busur, katapel, besi bergerigi, dan tameng seng.
Dari pemeriksaan awal, ST mengaku telah empat kali mengikuti perang kelompok di sejumlah lokasi di Makassar. Dia juga disebut pernah menerima bayaran Rp 100 ribu dari seseorang berinisial DN setelah mengikuti tawuran di lokasi lain.
Polisi kemudian mengembangkan penyelidikan dan menangkap DN (15) serta IZ (16) di lokasi berbeda pada Senin, 12 Oktober 2026.
DN diduga menjadi pihak yang menjanjikan uang kepada peserta tawuran. Sedangkan IZ diduga ikut terlibat dalam bentrokan dengan membawa busur.
"DN ini yang memberikan atau menjanjikan uang sebesar Rp 100 ribu kepada pelaku yang sebelumnya telah tertangkap. Kemudian IZ ini termasuk pelaku yang ikut melakukan perkelahian kelompok dengan membawa senjata tajam jenis busur," jelas Asfada.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing