- Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyatakan kualitas udara Kota Makassar terganggu karena polusi kiriman angin pada 9 Oktober 2026.
- BMKG Sulsel melaporkan peningkatan konsentrasi PM2.5 di Makassar disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan dari dalam serta luar wilayah.
- Warga kelompok sensitif di Kota Makassar disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara memburuk.
"Data kualitas udara PM2.5 memang terjadi kenaikan konsentrasi sejak kemarin malam. Sebelumnya itu mulai turun, menjadi level sedang. Sejak malam tadi naik lagi ke level tidak sehat, sampai siang ini terpantau kategori tidak sehat," kata Rizky, Jumat, 9 Oktober 2026.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Potensi titik panas dan kebakaran di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dapat turut menyumbang polusi udara di Makassar dan sekitarnya.
Selain itu, asap dari kebakaran di luar wilayah Sulsel juga berpotensi terbawa angin menuju daerah ini.
Dengan demikian, sumber polusi tidak hanya berasal dari luar daerah, tetapi juga dapat berasal dari wilayah Sulawesi Selatan sendiri.
Rizky mengatakan membaiknya kualitas udara sangat bergantung pada penanganan sumber asap, kondisi cuaca, serta arah angin.
"Kalau kualitas udara sumbernya dari karhutla, kalau sumber belum teratasi, potensi penurunan kualitas udara ini masih ada di Sulsel," ujarnya.
Ia menjelaskan hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel polutan di udara. Namun, apabila belum ada potensi hujan yang memadai, kualitas udara yang kurang baik masih berpeluang bertahan selama beberapa hari ke depan.
"Jadinya konsentrasi kurang baik masih bisa bertahan beberapa hari ke depan, tergantung juga arah anginnya. Kalau misalkan arah angin belok tidak ke Sulsel, bisa (menurun)," sebutnya.
Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan
Memburuknya kualitas udara perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan asma dan penyakit jantung.
Warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama ketika konsentrasi polutan meningkat.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar juga dapat menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95.
Aktivitas olahraga di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Warga juga perlu memantau perkembangan indeks kualitas udara secara berkala, terutama pada sore hingga malam hari ketika konsentrasi polutan diprakirakan meningkat.
Dengan potensi asap karhutla dari berbagai wilayah dan belum adanya kepastian kapan sumber polusi dapat teratasi, kualitas udara Makassar masih berpeluang memburuk dalam beberapa hari ke depan.