- Sebanyak 173 siswa dan guru di Tana Toraja diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis pada September 2026.
- Orang tua siswa mendesak penghentian program tersebut di Kantor DPRD Tana Toraja karena merasa trauma dan kecewa atas pernyataan penyedia makanan.
- DPRD Tana Toraja memutuskan menghentikan sementara operasional penyedia makanan serta mewajibkan mereka menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
"Tapi sekarang saya alami sendiri. Anak kami dirawat dua hari karena keracunan. Kami trauma, jangan lagi dibagikan," keluhnya.
Tiku berharap pemerintah menghentikan sementara pembagian MBG kepada anak-anak sekolah.
"Kasihan anak-anak kalau harus dikorbankan karena program ini. Biarlah kami kasih makan di rumah saja, walau hanya telur tapi aman," lanjutnya.
Pernyataan SPPG Bikin Orang Tua Emosi
Samuel mengatakan kemarahan orang tua juga dipicu pernyataan pihak mitra SPPG Makale Batupapan 1 dalam RDP DPRD Tana Toraja pada Jumat, 5 September 2026 lalu.
Samuel meminta agar Badan Gizi Nasional mempertimbangkan untuk menghentikan kerjasama dengan SPPG yang mengakibatkan adanya keracunan.
Dalam rapat tersebut, perwakilan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana selaku mitra BGN dan SPPG, Louice Cristiana Mangontan menyatakan pihaknya telah menjalankan prosedur operasional standar (SOP) dalam penyediaan MBG.
Louice menjelaskan terdapat petugas atau person in charge (PIC) di sekolah yang bertugas menerima makanan, mencium dan mencicipi menu sebelum dibagikan kepada siswa.
"Di sekolah itu ada yang mana PIC ini harus menerima, jadi dengan tim distribusi kami, menerima, mencium, mencicipi menu-menu yang ada dalam ompreng itu, dipastikan tidak berbau, tidak busuk," kata Louice.
Baca Juga: Bukan Sampel Muntahan, Ini yang Sebenarnya Diuji BBPOM di Kasus MBG Tana Toraja
Setelah makanan dinyatakan layak, pihak sekolah menandatangani dokumen kelayakan sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
Namun, dalam rapat tersebut Louice juga menyinggung informasi mengenai makanan yang disebut berbau.
"Nah, ada berbagai informasi yang katanya mau makan sudah busuk. Kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan, tabe?," ujarnya.
Pernyataan itu kemudian dipersoalkan orang tua korban.
"Yang bikin emosi karena dia bilang kalau sudah diketahui bau, kenapa dimakan? Jadi kesannya ada kesengajaan untuk meracuni. Harusnya polisi bergerak memeriksa orang ini," kata Samuel.
Louice menyatakan pihaknya memahami kondisi yang terjadi dan siap melakukan pembenahan apabila ditemukan kekurangan dalam proses penyediaan MBG.
"Kami sangat memahami kondisi ini, kami ini betul-betul di luar kendali kami makanya kami siap salah, siap memperbaiki, mungkin membenahi ke dalam, walaupun memang kami sudah melakukan SOP," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar