- Sekitar lima puluh kepala keluarga di Kecamatan Pasimarannu mengungsi ke perbukitan karena trauma gempa sebelumnya.
- BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar menyatakan gempa magnitudo tujuh tersebut merusak tiga belas rumah warga tanpa korban jiwa.
- Petugas BPBD harus menempuh perjalanan laut selama dua belas jam untuk menyalurkan bantuan logistik kepada pengungsi.
SuaraSulsel.id - Sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Kepulauan Selayar masih bertahan di pengungsian di wilayah perbukitan akibat trauma dengan dampak gempa dahsyat yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Muhammad Ikbal saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu 16 Agustus 2026.
Dia mengatakan keputusan warga untuk tetap berada di pengungsian tidak terlepas dari pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 pada 14 Desember 2021.
Saat itu, gempa yang berpusat di wilayah Flores turut dirasakan kuat di Selayar, khususnya Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu.
Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang roboh dan rata dengan tanah.
Menurut dia, warga mempunyai alasan tersendiri sehingga masih bertahan di lokasi pengungsian, karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya, terutama kejadian 2021.
Saat gempa M7,0 kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan.
Di Pasimarannu tercatat sekitar 278 KK mengungsi, sementara di Pasilambena sekitar 130 KK.
Namun, warga Pasilambena kini telah berangsur kembali ke rumah. Sementara di Pasimarannu, sekitar 20 persen dari total pengungsi atau kurang lebih 50 KK masih memilih bertahan di perbukitan.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Salurkan Bantuan Rp500 Juta untuk Korban Gempa NTT
Lebih jauh dijelaskan, sebagian warga sebenarnya telah kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas.
Namun, ketika sore tiba, mereka kembali menuju lokasi pengungsian yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman.
Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya rasa khawatir warga terhadap kemungkinan gempa susulan.
Ikbal menyebut, sebagian warga biasanya bertahan selama tiga hingga empat hari di lokasi pengungsian.
Selain faktor trauma, kondisi geografis juga menjadi tantangan bagi penanganan pengungsi.
BPBD Selayar harus menempuh jalur laut sekitar 12 jam untuk mengakses wilayah terdampak dan menyalurkan bantuan logistik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Appi Beri Peringatan Camat-Lurah: Tinggalkan Kebiasaan Santai, Tak Boleh Kerja Seremoni
-
Hore! Pemprov Sulsel Beri Diskon 50% Pajak Kendaraan dan Bebas Denda, Cek Syaratnya
-
Pemuda Makassar Tewas Diduga Dikeroyok 20 Pelajar SMP
-
BRI Gandeng KPK Cetak Penyuluh Antikorupsi Lewat PELOPOR 2026
-
Blunder Fatal PT Pos Indonesia, Bupati Gowa Duga Ada Sabotase di Balik Putusan MA