- Pemerintah kolonial Hindia Belanda resmi mengoperasikan jalur kereta api pertama sepanjang 47 kilometer yang menghubungkan Makassar dan Takalar pada 1 Juli 1923.
- Jalur kereta api kolonial tersebut akhirnya ditutup pada tahun 1930 akibat kalah bersaing dengan truk serta hantaman depresi ekonomi dunia.
- Masa pendudukan Jepang sempat melanjutkan pembangunan jalur rel di Sulawesi Selatan pada tahun 1944 untuk kepentingan perang, namun proyek ini terbengkalai.
SuaraSulsel.id - Beberapa tahun terakhir, kereta api mulai menjadi bagian dari lanskap Sulawesi Selatan.
Jalur Maros-Barru telah beroperasi, sementara pengerjaan terus dilanjutkan menuju kawasan pelabuhan di Makassar.
Bagi sebagian orang, kehadiran kereta api itu terasa seperti sebuah babak baru. Kereta api dianggap sebagai moda transportasi yang untuk pertama kalinya hadir di Sulawesi Selatan.
Anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Lebih dari seabad lalu, ketika Makassar masih bernama Ujungpandang dan pemerintah Hindia Belanda sibuk menghitung potensi hasil bumi Celebes, rel kereta api sudah lebih dulu membelah wilayah Sulawesi Selatan bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Jalur itu menghubungkan Makassar dengan Takalar.
Kereta api mulai melayani rute tersebut pada 1 Juli 1923. Rel sepanjang 47 kilometer itu menghubungkan Ujungpandang dengan Takalar, melewati sejumlah kawasan yang saat itu menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi di sekitar Makassar.
"Jalan rel tersebut yang panjangnya 47 km menghubungkan kota Ujungpandang (dulu namanya Makasar) dengan Takalar," demikian dicatat dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Volume 1.
Namun, perjalanan menuju rel pertama di Sulawesi Selatan itu tidak berlangsung singkat.
Baca Juga: Warga Makassar Bersihkan Masjid dan Gereja Sambut HUT RI
Jejaknya bahkan belum benar-benar hilang.
Di Jongaya, Makassar, sebuah bangunan yang dari luar tampak seperti rumah sederhana menyimpan cerita panjang tentang masa ketika lokomotif masih menjadi teknologi transportasi modern di Hindia Belanda.
Bangunan itu adalah bekas stasiun.
Pintu dan jendelanya masih menggunakan kayu dari masa ketika bangunan tersebut berfungsi sebagai stasiun kereta api.
Setelah jalur kereta Makassar - Takalar tidak lagi beroperasi, bangunan itu tidak serta-merta ditinggalkan. Ia berganti fungsi.
Bangunan bekas stasiun tersebut pernah digunakan sebagai kantor Polsek Jongaya. Setelah itu, kepala kepolisian sektor saat itu mengajukan ke pemerintah agar bangunan tersebut dihibahkan dan kemudian digunakan sebagai rumah pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
2.557 Pendaki Padati Gunung Bawakaraeng untuk Kibarkan Merah Putih, Begini Situasi Terkini
-
Begal Beraksi di 18 Lokasi di Kota Kendari Ditangkap
-
Ketika Kereta Api Melintas di Pulau Sulawesi, Jauh Sebelum Indonesia Merdeka
-
Nekat Menambang Sembunyi-sembunyi, 5 Warga Tewas Tertimbun Longsor di Pohuwato
-
Korban Kekerasan Dipaksa Bayar Biaya Visum, Zakat Diusulkan Jadi Solusi Dana Darurat