- PT Bogatama Marinusa di Makassar mengekspor 859,4 ton udang senilai Rp148,2 miliar ke Jepang pada semester pertama 2026.
- Konsumen Jepang menyukai udang vaname dan windu asal Sulawesi Selatan karena memiliki rasa manis serta tekstur khas.
- Badan Karantina Indonesia memastikan komoditas udang ekspor tersebut memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan mutu internasional.
Bukan pasar yang sepi yang membuat eksportir kesulitan, melainkan keterbatasan pasokan.
Jumaeri mengatakan perusahaan membutuhkan sekitar 50 ton udang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Namun, jumlah tersebut belum selalu bisa dipenuhi.
Kondisi itu menunjukkan bahwa rantai ekspor udang tidak berhenti di ruang produksi.
Sebelum menjadi produk beku yang siap dikirim ke luar negeri, ketersediaan bahan baku dari pembudidaya menjadi salah satu mata rantai penting.
Semakin tinggi permintaan pasar, semakin besar pula kebutuhan terhadap pasokan udang yang konsisten, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Di sisi lain, pasar Jepang juga memiliki standar yang ketat.
Udang yang akan dikirim tidak cukup hanya memiliki ukuran dan rasa yang sesuai selera konsumen. Produk harus memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan pangan, sanitasi, hingga ketertelusuran yang ditetapkan negara tujuan.
Di titik inilah proses karantina menjadi bagian penting dalam perjalanan udang dari Sulsel menuju pasar global.
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding melihat proses tersebut saat mengunjungi PT BOMAR di Makassar, Jumat, 7 Agustus 2026.
Baca Juga: Rahasia Warga Sulsel Tetap Antusias Daftar Haji Meski Masa Tunggu Puluhan Tahun
Ia meninjau rangkaian pengolahan udang ekspor, mulai dari proses breaded hingga pengemasan.
Kata Karding, standar yang diterapkan perusahaan menunjukkan bahwa industri udang Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan pasar internasional.
"BOMAR jadi gambaran bahwa sebenarnya Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia karena kalau udangnya dikelola dengan tepat. Apa yang ada di Bomar ini merupakan suatu ekosistem dengan standar yang sangat tinggi," ujarnya.
Karding mengatakan tugas karantina bukan hanya memastikan dokumen ekspor lengkap. Komoditas perikanan yang keluar dari Indonesia harus memenuhi standar kesehatan dan mutu yang dipersyaratkan.
"Standar yang telah diterapkan oleh BOMAR seperti ini memang standar ekspor dunia. Tugas kami memastikan semua komoditas perikanan yang keluar, baik antarpulau maupun antarnegara, sehat, mutunya terjaga, dan kualitasnya terjaga," ujarnya.
Bagi perusahaan, proses tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan ekspor.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
- 11 HP Murah untuk Ojol, Baterai Awet dan Layar Terang agar Tetap Nyaman di Jalan
- Persija dan PSM Masuk Daftar 24 Klub Penunggak Gaji Pemain Versi Data Terbaru APPI
- 7 Sepatu Slip On Lokal yang Empuk dan Anti Pegal untuk Kerja Komuter, Mulai Rp100 Ribuan
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Helikopter BNPB Jatuh Saat Ambil Air di Sungai Barito
-
PLN Genjot Pembangunan Pembangkit Listrik Mesin Gas di Baubau
-
Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang
-
Pangdam Hasanuddin Gandeng Ormas dan Ojol Berantas Mafia TNI
-
Jenderal yang Menanggalkan Gelar Andi, Kini Bergelar Pahlawan Nasional