- Unhas Fly Research Group memperkenalkan lalat buah sebagai model riset penting dalam genetika, penyakit, dan terapi.
- Lalat buah efektif karena 75 persen gen penyakit manusia memiliki pasangan fungsional serupa di Drosophila.
- Webinar ini memperkuat kerja sama Unhas dengan universitas internasional untuk kajian penyakit dan pengembangan terapi.
SuaraSulsel.id - Tim peneliti Unhas Fly Research Group (UFRG) memperkenalkan lalat buah sebagai model riset strategis dalam berbagai bidang penelitian, mulai dari genetika, biologi perkembangan, hingga riset penyakit dan terapi.
Prof Firzan Nainu SSi PhD Apt dari Fakultas Farmasi Unhas melalui webinar Fly Research Group Outreach 2026 di Makassar.
Menjelaskan bahwa Drosophila melanogaster atau lalat buah merupakan model biologis yang sangat kuat untuk menjawab pertanyaan besar dalam biologi dan kesehatan manusia.
Outreach 2026 merupakan bagian dari penguatan kerja sama akademik internasional antara Universitas Hasanuddin, The University of Queensland, dan University of Cambridge.
Sekitar 75 persen gen manusia terkait penyakit memiliki pasangan fungsional pada Drosophila, dengan kesamaan tidak hanya pada struktur gen, tetapi juga fungsi biologis dan mekanisme seluler.
Hal ini menjadikan Drosophila sangat efektif sebagai model screening untuk memahami mekanisme penyakit dan terapi.
Rencana tubuh organisme, kata dia, dikendalikan program genetik yang bekerja melalui jaringan gen hierarkis dan bersifat evolusioner serta terkonservasi lintas spesies.
Sehingga temuan pada Drosophila relevan untuk menjelaskan berbagai penyakit manusia, seperti kanker, gangguan metabolik, penyakit degeneratif, dan proses inflamasi.
Sementara Prof Toshiyuki Takano dari Kyoto Drosophila Stock Center, Kyoto Institute of Technology, Jepang, mengatakan pemanfaatan koleksi Drosophila.
Baca Juga: Ragam Sumber Beasiswa di Unhas dan Cara Jitu Mendapatkannya
Memungkinkan kajian penyakit secara lebih sistematis, terintegrasi, dan efisien.
Sekaligus menjembatani pendekatan lintas disiplin dari genetika, biologi sel, biomedis, hingga pengembangan terapi.
Selanjutnya, kegiatan ini dilanjutkan dengan pemaparan dua narasumber internasional lainnya, yakni Assoc. Prof Karyn Johnson dari The University of Queensland, Australia, dan Prof Tim Weil dari The University of Cambridge, Inggris.
Prof Karyn menjelaskan pemahaman interaksi antara inang dan virus yang merupakan kunci penting dalam pengendalian penyakit infeksi, khususnya penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga.
Menurutnya, Drosophila melanogaster memiliki peran strategis sebagai model organisme karena kemudahan manipulasi genetik serta kemiripan mekanisme imun dasarnya dengan organisme tingkat tinggi.
Prof Karyn mengatakan sekitar 15 persen penyakit infeksi pada manusia ditularkan melalui serangga, terutama nyamuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
Terkini
-
Dukung Suasana Kegiatan Resmi, Pemprov Sulsel Jelaskan Alokasi Anggaran Sewa Tanaman Hidup
-
Semarak Kemerdekaan, Intip Promo Spesial BRI
-
PT KIMA Siap Eksekusi Lahan Sengketa Usai Menang di Mahkamah Agung
-
Detik-Detik Mobil Pikap Mahasiswa KKN Unhas Rem Blong, Sopir Sengaja Tabrak Pohon
-
Selamatkan Lahan Pertanian di Sulawesi Selatan, Gubernur: Tim Sudah Lakukan Pompanisasi