SuaraSulsel.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan saat ini Sulawesi Selatan masih berada di musim kemarau dan belum memasuki musim kemarau. Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah IV Makassar, Hanafi Hamzah, Sabtu (4/9/2021).
Menurutnya, musim kemarau di Sulsel masih terjadi di seluruh wilayah Sulsel. "Jadi wilayah pantai barat yang saya katakana itu misalnya mulai dari Pare-pare ke Selatan meliputi Pare-pare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, sebagian Bantaeng kondisi sekarang untuk September ini masi musim kemarau, jadi belum musim hujan begitu," ungkapnya seperti dikutip dari kabarmakassar.com.
Ia menambahkan, selain wilayah tersebut, Soppeng, Wajo, Bone, Enrekang, Sinjai, Bulukumba juga masih pada musim kemarau.
Hanafi mengatakan Sulsel merupakan wilayah tropis namun memiliki variasi iklim, seperti halnya di wilayah Utara Sulsel. "Wilayah sebelah Utara, Luwu, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur tidak ada perbedaan anatara musim hujan dan musim kemarau jadi sepenjang tahun terjadi hujan," bebernya.
Hanafi menjelaskan, suatu kondisi dikatakan memasuki musim hujan jika dalam satu dekade atau dalam sepuluh harian curah hujan itu lebih dari 50 mm.
"Jadi sebuah kondisi dikatakan masuk musim hujan apabila dalam satu dekade atau dalam sepuluh harian curah hujan itu lebih dari 50 milli meter, jadi bukan perkara dia hujan atau tidak hujan jadi jumlah curah hujan yang jatuh dan dari pantauan kita dari bulan juni, juli, agustus dan mau masuk September ini memang kadang-kadang hujan tapi itu jumlahnya tidak mencukupi untuk melebihi dari 50 milli meter jadi tetap musim kemarau ya,” jelasnya.
“Jadi kemarau yang ada tahun ini adalah kemarau yang kebetulan agak banyak hujan tapi bukan berarti musim hujan jadi batasannya begitu, apabila curah hujan 50 melli meter dalam satu desarian itu musim hujan,apabila kurang dari 50 melli meter itu masi musim kemarau seperti sekarang yang terjadi di Makassar," sambungnya.
Diperkirakan, Wilayah Makassar, Maros bagian Barat, Pangkep, Barru, sebagian Gowa, Takalar, Jeneponto bagian Utara akan memasuki musim penghujan antara bulan Oktober atau sekitar tanggal 20 Oktober hingga 2 November, atau sekitar tanggal 10 November.
Kendati di musim kemarau ini ada banyak hujan, Hanafi mengimbau masyarakat untu tetap berhati-hati terjadinya kebakaran dan kondisi ektrem yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Baca Juga: Viral Pernyataan Dokter di Sulawesi Selatan : Pasien Covid-19 Tidak Pernah Ada
“Jadi kemarau kita adalah musim kemarau dengan hujan yang cukup banyak. Walaupun demikian karena sifatnya musim kemarau ini diguyur hujan, tetap berhati-hati karena kalau musim kemarau itu mudah sekali terjadi kebakaran. Kemudian karena musim kemaraunya agak banyak hujan atau kemarau basah bagaimana saat akan terjadi hujan biasanya disertai dengan kondisi yang ekstrem, ya angin kencang mendadak kemudian sering badai petir dan sebagainya. Ini kalau terjadi dapat mengakibatkan kondisi dalam tubuh kita dengan perubahan yang mendadak itu sehingga rentan terjadi penyakit begitu,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas Daihatsu untuk Lansia yang Murah, Aman dan Mudah Dikendalikan
- Apa Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki? Ini 6 Rekomendasi Terbaiknya
- 5 Mobil Bekas Toyota Pengganti Avanza, Muat Banyak Penumpang dan Tahan Banting
- 27 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 3 Januari 2026: Ada Arsenal 110-115 dan Shards
- iQOO 15R Lolos Sertifikasi Resmi, Harga Diprediksi Lebih Terjangkau
Pilihan
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
-
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
-
4 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Baterai Jumbo, Aman untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
Tawuran Dua Kelompok di Makassar Berakhir Damai di Masjid
-
Dosen Ludahi Kasir Turun Pangkat dan Terancam Pidana 4 Bulan
-
Video Penangkapan Jurnalis di Morowali Penuh Kekerasan, AJI: Berlebihan!
-
Aktivis dan Jurnalis Ditangkap Paksa di Morowali, Warga Marah: Mereka Hanya Sampaikan Aspirasi
-
Fakta-fakta Mengejutkan di Balik Juragan Nasi Kuning Makassar: Kekerasan Seksual hingga Cemburu Buta