SuaraSulsel.id - Dosen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin Ahmad Bahar mengatakan, kondisi manusia atau benda yang tenggelam di dasar laut seperti KRI Nanggala 402 akan mengalami tekanan luar biasa.
Karena tekanan hidrostatik sudah sangat besar pada kedalaman 850 meter. Bisa mencapai 8000 kilo Pa (Pascal) atau setara dengan ditindih 10 ekor Gajah dewasa.
"Ini cuma perumpamaan saja. Betapa tingginya tekanan hidrostatik air laut di kedalaman," kata Ahmad Bahar kepada Suara.com, Minggu 25 April 2021.
Bahar mengatakan, untuk penyelaman dengan tabung biasa, manusia hanya mampu menyelam pada kedalaman maksimal 40 meter.
Manusia bisa meninggal karena tekanan hidrostatis yang sangat besar, Juga tentu karena kehabisan oksigen. Paru-paru menyempit karena tertekan. Semua bagian tubuh yang berongga seperti pembuluh darah menyempit semua.
"Saya pernah membawa kaleng biskuit pada kedalaman 30 meter saja, sampai penyok semua sisinya. Kalau masih ada cadangan udara di kapal, itu pun bisa menyebabkan keracunanan nitrogen. O2 yang dihirup di dalam laut yang bertekanan tinggi berubah jadi nitrogen.
Penyakitnya biasa disebut Nitrogen Narkosis. Seperti "fly" di dalam laut. Kalau terus berlanjut akan menimbulkan kematian. Penyakit ini cukup ditakuti penyelam. Karena terkadang tidak disadari penyelam sudah menyelam sangat dalam.
Banyak masalah yang juga harus diprediksi, seperti pengaruh arus yang bisa menyeret kapal. Kalau langsung jatuh juga masalahnya bisa terbenam dalam lumpur. Seperti pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu.
Sudah empat hari kapal selam Nanggala-402 milik TNI Angkatan Laut belum juga memperlihatkan wujudnya. Sedikit demi sedikit, bagian-bagian dari kapal pun mulai ditemukan di perairan Bali bagian Utara.
Baca Juga: Bikin Haru, Azka Anak Kru KRI Nanggala 402 Sempat Kunci Pintu Kamar Ayahnya
Sejak dinyatakan hilang pada Rabu (21/4/2021), kapal selam Nanggala-402 "membisu" di tengah lautan. Sebab, kontak antara kapal selam dengan pemberi izin menyelam tiba-tiba terputus tepat pada pukul 04.25 WITA.
"Komunikasi terakhir dengan KRI Nanggala pada pukul 04.25 WITA saat komandan gugus tugas latihan akan memberikan otoritasi penembakan torpedo. Di situlah komunikasi dengan KRI Nanggala terputus," jelas Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Achmad Riad pada Kamis (22/4/2021).
Kapal selam Nanggala-402 itu awalnya akan dipergunakan untuk latihan penembakan torpedo. Sebanyak 53 ABK ikut dalam kapal selam tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
7 Rahasia Black Box Pesawat yang Jarang Diketahui Publik
-
Isak Tangis Iringi Penyerahan Jenazah Pramugari Florencia Lolita Wibisono
-
Tim Khusus Temukan Black Box di Ekor Pesawat Dalam Kondisi Utuh
-
Ingin Masuk Unhas Jalur Ketua OSIS? Pahami Syarat, Penilaian, dan Aturannya
-
Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 Pramugari Atas Nama Florencia Lolita