"Dekatnya Munarboy dengan Rizieq ini buat kecemburuan elit FPI. FPI terbelah, tapi Munarboy lebih kuat karena dia bawa dana internasional. Sedangkan elit FPI lainnya cuman andalkan donasi ma bohir. Lagian mereka ga sepinter Munarboy yang langsung buat Laskar Jihad, dimana dia sebagai panglimanya," kata Denny Siregar.
Laskar jihad bentukan Munarman itulah, kata Denny yang terlibat bentrok dengan polisi di peristiwa KM 50.
"Laskar jihad Munarboy inilah yang terlibat bentrok dengan polisi di KM 50. Mereka punya SOP bunuh siapapun yang mau celakakan Rizieq dan Munarboy. Laskar Jihad ini juga yang kemaren ditangkap Densus karena rencana bikin bom saat sidang Rizieq dan bikin rusuh Indonesia dengan sasar toko China," terangnya.
Maka dari itu, Denny Siregar menilai bahwa Munarman lah mastermind sebenarnya dari FPI. Sementara HRS, menurutnya hanya boneka yang dijadikan simbol FPI untuk mendapat banyak simpatisan.
"Munarboy inilah mastermind sebenarnya, sedangkan Rizieq hanya boneka, sebagai simbol dengan konsep imam besar untuk raih pendukung. Rizieq itu boneka sempurna. Predikat Cucu Nabi buat banyak orang simpati padanya. Kultur muslim Indonesia yang hormat pada keluarga Nabi inilah yang dimainkan Munarboy," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila