- Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengecam dugaan pembakaran pemakaman leluhur Toraja Utara yang membakar puluhan peti jenazah.
- Kebakaran hutan pada 23 hingga 24 Oktober 2026 itu merusak liang batu akibat sulitnya akses pemadaman manual.
- Kementerian Kebudayaan berencana mengumpulkan data untuk melakukan pemulihan serta restorasi situs cagar budaya yang terdampak kerusakan.
SuaraSulsel.id - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengecam keras dugaan pembakaran kawasan pemakaman leluhur masyarakat Toraja di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Insiden yang menyebabkan puluhan peti jenazah di dalam Liang batu terbakar itu disebutnya sebagai tindakan kriminal yang biadab jika terbukti dilakukan dengan sengaja.
Fadli mengatakan peristiwa tersebut sangat memprihatinkan karena kebakaran tidak hanya merusak kawasan hutan, tetapi juga mengancam situs yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Toraja.
"Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Kita sedang mengumpulkan juga nanti data-datanya yang terkait hal ini, apa yang bisa kita lakukan di dalam pemulihannya, restorasinya," kata Fadli Zon usai melantik Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HPIIS) Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 27 Oktober 2026.
Kata Fadli, kebakaran dapat dipicu oleh sejumlah faktor. Baik akibat ulah manusia maupun kondisi alam.
Namun, apabila terdapat unsur kesengajaan dalam peristiwa yang merusak kawasan pemakaman leluhur tersebut, pelakunya harus diproses sesuai hukum.
"Saya kira ini satu tindakan kriminal yang sangat biadab, gitu ya, merusak," ujarnya.
Kementerian Kebudayaan akan mengumpulkan informasi dan melakukan inventarisasi terhadap situs-situs yang terdampak.
Pendataan tersebut diperlukan untuk menentukan langkah pemulihan, revitalisasi, maupun restorasi sesuai kondisi kerusakan yang ditemukan di lapangan.
Perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada pemakaman tradisional di Toraja Utara.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
Fadli juga menyoroti ancaman kebakaran terhadap situs prasejarah Leang-Leang di Kabupaten Maros yang api kebakarannya dilaporkan telah mendekati lukisan prasejarah di dinding gua.
Ia mengatakan perlindungan situs cagar budaya harus menjadi perhatian serius, termasuk dari ancaman aktivitas industri yang berpotensi merusak kawasan bernilai sejarah.
"Kita lagi sedang pelajari ya, karena memang saya melihat bahwa itu bukan hanya karena kebakaran, tapi juga mungkin agresivitas untuk eksploitasi di bidang industri. Itu juga menjadi satu faktor yang lain yang harus kita amankan," sebutnya.
Fadli secara khusus menyinggung aktivitas industri semen yang menurutnya perlu dibatasi apabila berpotensi mengancam situs cagar budaya, termasuk lukisan prasejarah di dinding gua.
"Misalnya, dalam hal ini eksploitasi untuk semen, pabrik semen. Ini menurut saya harus dibatasi kalau menyangkut ada situs-situs cagar budaya, termasuk lukisan-lukisan yang ada di dinding-dinding gua itu," ungkap Fadli.
Puluhan Peti Jenazah di Liang Batu Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Toraja Utara dilaporkan merembet ke kawasan pemakaman tradisional masyarakat Toraja di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Utara, Kecamatan Baruppu. Peristiwa tersebut terjadi sejak Jumat, 23 Oktober 2026 hingga Sabtu, 24 Oktober 2026.
Api yang menjalar ke kawasan pemakaman menyebabkan puluhan peti jenazah di dalam liang batu ikut terbakar. Beberapa warga bahkan terpaksa mengevakuasi jasad kerabat mereka dari area terdampak.
Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (Damkarmat) Toraja Utara, Riantho Yusuf Sangkelo mengatakan kebakaran diduga dipicu oleh seseorang yang membakar kawasan tersebut. Dugaan itu muncul berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat.
"Diduga ada unsur kesengajaan atau karena iseng. Itu informasi dari masyarakat," kata Riantho, Senin, kemarin.
Riantho menjelaskan seorang warga sempat melihat orang yang diduga memicu api di sekitar lokasi. Warga kemudian berusaha mengejar orang tersebut, tetapi terduga pelaku berhasil melarikan diri.
"Ada sempat orang yang melihat membakar. Artinya mungkin iseng atau apa, tapi dikejar sama masyarakat (belum dapat). Belum diketahui pasti siapa," ujarnya.
Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Dugaan pembakaran tersebut masih didasarkan pada keterangan masyarakat dan belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penyebab kejadian.
Riantho menyebut kebakaran berdampak pada puluhan liang batu yang tersebar di tiga titik berbeda. Sejumlah peti jenazah di dalamnya dilaporkan ikut terbakar.
"Itu kuburan tebing namanya Liang. Jadi ada puluhan Liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya. Sempat juga ada peti yang terbakar," jelasnya.
Berdasarkan informasi awal, sekitar 50 jasad diperkirakan terdampak. Laporan masyarakat juga menyebut jumlah peti jenazah yang terdampak berpotensi mencapai ratusan.
Namun, angka tersebut belum dapat dipastikan karena petugas masih membutuhkan pendataan lebih lanjut.
Penghitungan tidak bisa dilakukan dengan mudah karena lokasi pemakaman berada di tebing dengan akses yang sulit dijangkau.
Liang batu merupakan bagian dari tradisi pemakaman masyarakat Toraja. Peti jenazah ditempatkan di ruang atau lubang pada tebing batu yang umumnya digunakan oleh anggota keluarga atau rumpun keluarga yang sama.
Selain menjadi tempat peristirahatan leluhur, liang batu juga merupakan bagian dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Proses pemadaman karhutla di kawasan tersebut turut terkendala medan. Kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau titik api karena akses jalan yang sulit.
"Kendaraan kami tidak memungkinkan masuk ke dalam untuk melakukan pemadaman karena akses jalan yang susah," tutur Riantho.
Petugas kemudian melakukan pemadaman secara manual dengan dukungan peralatan dari Manggala Agni.
Penanganan melibatkan tim gabungan dari Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Manggala Agni, kelompok pecinta alam (KPA), Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
- Tiga Jembatan di Batang Toru, Ikhtiar Menjaga Satwa Liar Tetap Terhubung
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Musik Timur Resmi Bikin Sejarah Baru di AMI Awards 2026
-
Uang Negara Rp40,75 Triliun Mengalir di Sulsel, Begini Rincian Penggunaannya
-
Presiden Prabowo Batal Resmikan Sekolah Rakyat di Makassar
-
Makam Leluhur di Toraja Terbakar, Fadli Zon Murka: Biadab!
-
Saluran Air Banyak Tersumbat? Pemkot Makassar Jajal Senjata Baru dari Jepang