- Disnakertrans Sulawesi Selatan menyiapkan program edukasi keselamatan kerja bagi siswa sekolah dasar mulai November 2026.
- Program tersebut melibatkan pelatihan bagi guru sekolah dan memanfaatkan dukungan kolaborasi bersama perusahaan di Sulawesi Selatan.
- Inisiatif ini bertujuan membentuk kebiasaan keselamatan kerja sejak dini untuk meningkatkan produktivitas sumber daya manusia masa depan.
Tahap awal justru difokuskan pada peningkatan kapasitas guru agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengajarkan prinsip-prinsip K3 kepada anak didik.
Jayadi menjelaskan, setiap sekolah direncanakan mengirimkan dua guru untuk mengikuti pelatihan training of trainers (ToT) atau pelatihan bagi calon pelatih.
Para guru tersebut akan mendapatkan pembekalan dari guru besar dan dewan pakar sebelum menerapkan materi K3 di sekolah masing-masing.
Dengan pola ini, guru diharapkan menjadi penggerak utama yang memastikan edukasi keselamatan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Kita utamakan guru-gurunya dulu. Guru yang menangani persoalan itu dua orang di setiap sekolah. Kita ada sekolah-sekolah binaan, ditambah dengan perusahaan yang berada di situ untuk ToT,” jelas Jayadi.
Setelah mengikuti pelatihan, para guru akan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada siswa di sekolah binaan perusahaan.
Materi pembinaan diharapkan dapat disesuaikan dengan usia anak sehingga prinsip keselamatan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan perusahaan menjadi salah satu kunci program tersebut. Selain mendukung pelatihan, perusahaan diharapkan membantu memastikan pembinaan dapat berjalan di sekolah-sekolah yang telah menjadi bagian dari program tanggung jawab dan pendampingan mereka.
Jayadi menilai jaringan perusahaan yang memiliki sekolah binaan menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan edukasi K3 di Sulsel.
Baca Juga: Ini Strategi Awal Appi Sebagai Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan
Manfaatkan Dukungan Perusahaan Tanpa APBD
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah, Disnakertrans Sulsel berupaya merancang program tersebut dengan memaksimalkan kolaborasi bersama dunia usaha.
Jayadi mengatakan, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan inovasi dalam menyiapkan SDM yang memahami keselamatan kerja.
“Kemampuan kita mendesain sesuatu dengan zero APBD itu karena kita tahu keterbatasan anggaran kita. Tapi jangan kita berhenti di situ. Harus ada upaya-upaya lain,” katanya.
Ia menyebut sejumlah perusahaan telah memiliki potensi untuk mendukung pembinaan di sekolah-sekolah sekitar wilayah operasionalnya.
Dukungan tersebut akan dimanfaatkan untuk menjalankan program tanpa sepenuhnya membebankan pembiayaan kepada APBD.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
Terkini
-
Bos Tambang Nikel Ditangkap di Makassar Kasus Pajak Rp1,18 Miliar
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Konstruksi Stadion Untia Makassar Berkapasitas 15.000 Penonton Dimulai Awal 2027
-
Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal, Status Waspada
-
Kabut Asap Memburuk, Pemkot Palu Perpanjang Sekolah Daring