- Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyatakan kualitas udara Kota Makassar terganggu karena polusi kiriman angin pada 9 Oktober 2026.
- BMKG Sulsel melaporkan peningkatan konsentrasi PM2.5 di Makassar disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan dari dalam serta luar wilayah.
- Warga kelompok sensitif di Kota Makassar disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara memburuk.
SuaraSulsel.id - Kualitas udara di Kota Makassar yang memburuk turut disinggung Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, Jumat (9/10/2026).
Andi yang mengaku sedang tidak sehat saat menghadiri agenda bersama anggota Komisi VII DPR RI, meminta maaf karena suaranya terdengar serak.
Ia kemudian mengaitkan kondisi udara Makassar dengan polusi yang terbawa angin dari wilayah barat dan timur.
"Mohon maaf, Bapak/Ibu, suara saya sedikit merdu. Maklum kualitas udara di Makassar sedang terganggu karena kiriman (polusi) dari barat dan timur," ujarnya.
Dalam beberapa kesempatan belakangan ini, Sudirman memang terlihat mengalami gangguan kesehatan, seperti flu dan batuk, disertai suara serak.
Sementara itu, data kualitas udara Makassar menunjukkan konsentrasi polutan meningkat sejak malam sebelumnya.
Berdasarkan pemantauan aplikasi IQAir pada Jumat pukul 13.34 WITA, indeks kualitas udara atau US AQI berada di angka 97, mendekati batas atas kategori sedang.
Adapun polutan utama yang terdeteksi adalah partikel halus PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 33,9 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut diprakirakan memburuk menjelang malam. Berdasarkan prakiraan per jam IQAir, indeks kualitas udara diprediksi menembus angka 100 mulai pukul 16.00 Wita dan mencapai 114 pada pukul 20.00 WITA.
Pada tingkat tersebut, kualitas udara masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Prakiraan harian juga menunjukkan kualitas udara berpotensi tetap berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif selama beberapa hari ke depan.
Indeks AQI diperkirakan mencapai 107 pada Jumat, meningkat menjadi 119 pada Sabtu (10/10), sebelum turun ke angka 106 pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Asap Karhutla dari Luar dan Dalam Sulsel
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha mengatakan peningkatan konsentrasi PM2.5 telah terpantau sejak malam sebelumnya.
Setelah sempat menurun ke level sedang, konsentrasi partikel halus tersebut kembali meningkat hingga masuk kategori tidak sehat.
"Data kualitas udara PM2.5 memang terjadi kenaikan konsentrasi sejak kemarin malam. Sebelumnya itu mulai turun, menjadi level sedang. Sejak malam tadi naik lagi ke level tidak sehat, sampai siang ini terpantau kategori tidak sehat," kata Rizky, Jumat, 9 Oktober 2026.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Potensi titik panas dan kebakaran di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dapat turut menyumbang polusi udara di Makassar dan sekitarnya.
Selain itu, asap dari kebakaran di luar wilayah Sulsel juga berpotensi terbawa angin menuju daerah ini.
Dengan demikian, sumber polusi tidak hanya berasal dari luar daerah, tetapi juga dapat berasal dari wilayah Sulawesi Selatan sendiri.
Rizky mengatakan membaiknya kualitas udara sangat bergantung pada penanganan sumber asap, kondisi cuaca, serta arah angin.
"Kalau kualitas udara sumbernya dari karhutla, kalau sumber belum teratasi, potensi penurunan kualitas udara ini masih ada di Sulsel," ujarnya.
Ia menjelaskan hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel polutan di udara. Namun, apabila belum ada potensi hujan yang memadai, kualitas udara yang kurang baik masih berpeluang bertahan selama beberapa hari ke depan.
"Jadinya konsentrasi kurang baik masih bisa bertahan beberapa hari ke depan, tergantung juga arah anginnya. Kalau misalkan arah angin belok tidak ke Sulsel, bisa (menurun)," sebutnya.
Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan
Memburuknya kualitas udara perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan asma dan penyakit jantung.
Warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama ketika konsentrasi polutan meningkat.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar juga dapat menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95.
Aktivitas olahraga di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Warga juga perlu memantau perkembangan indeks kualitas udara secara berkala, terutama pada sore hingga malam hari ketika konsentrasi polutan diprakirakan meningkat.
Dengan potensi asap karhutla dari berbagai wilayah dan belum adanya kepastian kapan sumber polusi dapat teratasi, kualitas udara Makassar masih berpeluang memburuk dalam beberapa hari ke depan.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Keluarga Korban Geng Motor di Makassar Murka, Sebut Pernyataan Polrestabes 'Piti Kana-kanai'
-
Gubernur Sulsel Singgung Kualitas Udara Makassar, Diprediksi Makin Buruk
-
Skakmat Peramal 'Indonesia Kolaps', Prabowo: Saya Lihat Langsung Masa Depan Indonesia Cerah
-
Kronologi 'COD' Geng Motor Warmen 27 Vs Tabe 22 di Makassar, 1 Tewas
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi