- LPMD MW KAHMI Sulsel menggelar diskusi mengenai evaluasi otonomi daerah di Makassar pada Sabtu, 5 September 2026.
- Forum tersebut membahas berbagai gagasan mulai dari penguatan provinsi, otonomi khusus, hingga wacana sistem federal.
- Diskusi ini menghasilkan target penyusunan rekomendasi kebijakan reformasi desentralisasi dan naskah akademik untuk masa depan Indonesia.
SuaraSulsel.id - Masa depan otonomi daerah di Indonesia kembali diperdebatkan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah desentralisasi pasca-Reformasi berjalan efektif.
Tetapi apakah desain hubungan pemerintah pusat dan daerah saat ini masih relevan untuk menjawab tantangan Indonesia ke depan.
Pertanyaan itu mengemuka dalam forum diskusi “Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah” yang digelar Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) MW KAHMI Sulsel di Kopi Aspirasi, Jalan AP Pettarani, Makassar, Sabtu (5/9/2026).
Ratusan aktivis, kader HMI, dan tokoh KAHMI dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan terlibat dalam diskusi tersebut.
Forum tidak hanya mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah selama hampir tiga dekade terakhir, tetapi juga membuka kemungkinan perubahan desain desentralisasi di masa depan.
Gagasan yang muncul membentang dari penguatan kewenangan pemerintah provinsi, otonomi khusus Sulawesi Selatan, hingga wacana sistem federal.
Tidak ada satu kesimpulan tunggal yang dihasilkan. Sebaliknya, perbedaan pandangan justru memperlihatkan besarnya ruang perdebatan mengenai bagaimana Indonesia seharusnya mengelola hubungan pusat dan daerah pada masa mendatang.
Hadir sebagai pemantik diskusi Presidium KAHMI Sulsel Ni’matullah Erbe, Ketua KPU Sulsel Hasbullah, pengamat politik Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla, dan Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur AS Kambie.
Baca Juga: Ari Lasso Jelaskan Kondisi Dalam Pesawat Garuda GA604 yang Alami Kerusakan Saat Mendarat
Otonomi Daerah Dinilai Perlu Dievaluasi
Presidium KAHMI Sulsel Ni’matullah Erbe membawa perdebatan pada pertanyaan mendasar mengenai masa depan desentralisasi.
Menurutnya, perjalanan Indonesia selama sekitar delapan dekade perlu dibaca kembali, terutama dalam melihat posisi daerah di tengah kuatnya kewenangan pemerintah pusat.
“Berhenti berpikir Indonesia. Susah 80 tahun kita jadi alas kaki pemerintah pusat. Saatnya kita berpikir bangsa kita sendiri. Bangsa Bugis, Bangsa Makassar, Bangsa Toraja, Mandar, dan Luwu,” kata Ni’matullah.
Mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel dua periode itu menilai Reformasi 1998 belum sepenuhnya menghasilkan distribusi kekuasaan yang ideal antara pusat dan daerah.
Karena itu, menurut dia, evaluasi terhadap otonomi daerah tidak cukup hanya menyentuh persoalan teknis pemerintahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan
- 4 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan dan Sukses Besar di Tahun Kambing Api 2027
Pilihan
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
Terkini
-
Survei 2 Tahun Prabowo-Gibran: 69 Persen Masyarakat Sulit Dapat Kerja
-
Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Pemkot Baubau Resmi Pulangkan Siswa
-
Darmawangsyah Muin Tidak Hadiri Peresmian Jalan, Gubernur Sulsel: Wah, Pelanggaran Ini
-
Awas Provokasi Medsos! Pemkot Makassar Turunkan Pasukan Gabungan Cegah Tawuran Meluas
-
Jangan Tunggu Peresmian, Gubernur Sulsel Perintahkan Jembatan Salujambu Luwu Segera Dibuka